Peduli amat! Siapa suruh ikut nyalon?!!!
Semua koran station radio tv selama seminggu penuh berisi ucapan selamat dari para pejabat penjilat, LSM, OKP dan para pengusaha kalap. Karangan bunga berbagai ukuran memenuhi posko dan halaman rumah mewahnya. Tim sukses berpesta pora sampai mabok menerima uang haram bergepok-gepok. KPU dan Panwaslu pura-pura dungu tanpa malu membiarkan seluruh kecurangan terjadi secara nyata.
Selama tiga hari tiga malam seluruh masyarakat luruh dalam pesta pora kemenangan. Mereka bebas makan apa saja di mana saja karena semua toko dan warung makan digratiskan atas perintah tuan DR. H. Thakur SH. MH. M.Si, MA. sang Dewanya. Kecuali yang masih memiliki seiprit hati nurani dan tidak peduli dengan apa pun yang terjadi.
Halaaah, Preeeeeeet!!!
Pelantikan Gubernur baru, mr H. SiDul Panjul MA. dan wakilnya mr Thoyib MM. dihadiri oleh kolega, pejabat tinggi dan pengusaha dari Jawa, Medan, Batam dan Singapura serta dihibur para artis selebriti yang sering diboking.
Wow dahsyat men!!!
Di tenda luar, masyarakat disuguhi dua layar monitor raksasa dan hidangan dengan beraneka menu lezat tersedia melimpah ruah. Masyarakat kegirangan bisa makan daging sepuas-puasnya. Maklum mereka bisa berjumpa sekerat daging setahun sekali saat hari raya Qurban. Itupun kalau kebagian. Yang lebih seringnya, mereka itu dibohongi oleh panitia. Dagingnya dipangkas separohnya.
mpfffh--- Uenak tenaaaan!
Mr Panjul dan mr Thoyib bersama istri masing-masing, duduk canggung dengan seragam dinas baru. Disebelahnya, ketua dewan undangan dan presiden yang bakal melantiknya nampak akrab bercanda ria bersama mr Thakur incumbent. Yang belum nampak hadir hanya mr Wong Butong Songong, boss kapal tanker dari Singapura, Bos mister Panjul sendiri.
Mr Panjul terlihat mulai gelisah tidak nyaman dengan peci dan seragam yang menurutnya aneh dan sangat menyiksa. Ditambah hampir tiga hari dua malam dirinya tidak bisa tidur karena kehadiran para tamu pejabat penjilat dan harus latihan gladi bersih pelantikan sesuai protokoler.
Ckckckckck! Hmmmmmm.
Ajudan tuan Thakur sigap mengabarkan pesawat yang membawa Big boss dari Singapura sudah mendarat dengan selamat. Tuan Thakur dan mr Panjul tersenyum puas, siap-siap menyambut sang maha dewa secara khusus sebagai bentuk loyalitas total jongos setia.
Hueeeeekgh!--- huekgh!
Dari dalam hutan, muncul laki-laki kurus berkaos lusuh dekil dan sangat bau, terduduk lemas kelelahan di pinggir jalan raya setelah semalaman merambah hutan sendirian. Disebelahnya tergeletak tiga buah botol sirop berisi penuh madu lebah berwarna kuning keperakan dan sebuah ember plastik sisanya. Wajahnya terlihat pucat dan gemetaran karena ubi rebus sebagai bekalnya sudah lama habis. Ia dan keluarganya tidak mendapat uang amplop timses karena rumah gubugnya jauh diujung kampung. Ia sendiri juga tidak pernah peduli siapa kepala daerahnya karena sudah tiga generasi, keluarganya bodoh dan melarat seperti dirinya.
Ketika mendengar raungan sirene dan strobo dari jauh, seketika muncul semangat laki-laki itu untuk ingin tahu apa yang terjadi. Ia segera berdiri tegap sempurna menenteng tiga buah botol madu lebahnya. Diangkatnya tinggi-tinggi agar bisa dilihat dengan jelas dari jalan. Siapa tahu mereka tertarik untuk membelinya.
Ketika pasukan moge pengawal pertama melintas, si Mat Boneng komat-kamit berdoa panjang lebar. Ternyata doanya terkabul seketika. Mr Wong Butong Songong memerintah si sopir untuk menghentikan mobilnya.
Setop! Setop! Setop! Tulun! Lu ambil itu madu dia punya, hakh?! Perintahnya tegas. Itu madu utan asli punya, hoh! Baguz untuk obat kuat peli-a!” Pria bermata sipit tambun, badan bertato. Leher dan lengannya ada rantai emas. Jari tangan penuh akik mutiara. terkekeh-kekeh kegirangan.
“Siap bos! Ajudan cepat turun berlari menghampiri.
Mat Boneng cengar-cengir gemetaran karena lapar.
Dijualkah bang?!---" tanyanya bodoh. Berapa harga se botolnya!" ajudan teliti memeriksa seperti memilih hosstes diskotik seperti biasanya.
Seratus rebu bang! Ujarnya cepat. Awak bawa rokok kah?! Mat Boneng berterus terang. bagi sebatang bang. Mulot rasanye masem betol. Dah lame dah tak merokok. Ia nyengir dengan gigi rompal dan mulutnya bau bangkai yang membuat pengawal pribadi itu ingin muntah.
Ajudan berbadan kekar berkaca mata gelap tersenyum sadis, langsung memberikan sebungkus rokok marlboro yang tinggal separo beserta koreknya. Mat Boneng dengan sigap menyambut dan sibuk menyalakan sebatang.
“Ambil aja semua! Ia mengambil selembar uang seratus ribuan yang masih baru dari dalam dompet, meletakkanya ke tanah. Ditindih dengan batu agar tidak diterbangkan angin. Madu asli kah?!” gumamnya sendiri sambil berfikir licik tentang keuntungan besar yang bakal didapat dari bos besarnya.
“Demi Alloh. Saye baru turun dari dalam hutan noh! Mat Boneng muter-muter kerepotan untuk menyalakan korek api karena selalu mati tertiup angin kencang sambil tangannya gemetaran.
“Ok. Thanks! Ajudan langsung kabur dengan membawa semua botol madunya. Lari sekencang setan menuju mobil yang sudah menunggu lama.
Siapa peduli?! Emang gue pikirin ?!
Mat Boneng terlambat menyadari semua barangnya ternyata sudah raib hanya ditukar dengan selembar uang seratus ribu. Saat tahu, semuanya sudah terlambat. Seketika ia kejang-kejang seperti orang sakit gila babi. Menggelepar-gelepar di aspal, menangis histeris, meronta dan meraung sejadi-jadinya. Mencoba mengejar mobil yang sudah melaju kencang, sungguh itu tidak mungkin. Apalagi saat ini dirinya tengah kelaparan berat. Yang bisa dilakukannya hanya menyumpah seranah dan memaki hamun dengan segala nama binatang hutan.
Ia terus menggelepar dan meraung sekeras-kerasnya penuh duka lara derita karena selama tiga hari dua malam menjelajah hutan belantara tanpa tidur itu hanya dihargai seratus ribu rupiah. Bukannya dolar. Sedangkan di rumah panggung buruknya ada dua orang tua renta pikun yang harus dihidupinya. Istri sedang hamil tua dan tiga anak-anak yang tengah menunggunya pulang setelah tidak makan apa-apa sejak kemarin seperti dirinya selain ubi kayu rebus.
“Bangkeee!! Terkutuklah kau orang kota! Anjing kurap, babi hutan keparat jadah haram! Makinya meronta-ronta menangis tragis. mampus kau tikus rakus dalam kakus! Gilak, makan taik neraka! Bla! Bla! Bla! Hua!-Hua!-Hua! Huh, capek dech!” Ia tumbang ketanah, gubraaak! Sekarat pinsan kehabisan tenaga dan nafas.
Siapa peduli! Emangnya gue pikirin?! Siapa suruh jadi orang mlarat!
Dalam mobil, ajudan menunjukkan hasil kerjanya yang ligat cepat dan tepat. Tiga botol mulus berisi penuh madu lebah hutan asli sudah ditangan.
Wow, uenaaaaak tenaaan!
Belapa halganya lu ambil semua hakh?!” tanya Boss si cina tambun, terkekeh tertawa gembira.
Enam juta pas boss. Suer! demi aloh! Tapi dilepas dengan harge lima juta! Sumpah! Saya tidak bohong! Haram bedosa, masuk neraka!” Ia mengangkat dua jari Vnya. Jujur, sejujur-jujurnya.
Phuihhhhhh, preeeeeet!!!