PENANGGALAN

Senin, 13 April 2026

#tipsnulis

Bag : 6.
(tips menulis) 

Jika kita sedang bernasib baik, semuanya akan berjalan lancar, ditolong banyak orang baik. Penerbit nelpon minta ijin untuk cetak ulang buku kita. Banyak yang ajak bedah buku. Calon mertua nawarin jadi menantu. Produser film nawarin kerja sama novelmu untuk di angkat ke film. Kalau begitu, Selamat! Anda siap siap menjadi selebriti baru. 😂

Pada abad kegemilangan massa ke khalifahan Islam dulu, banyak sekali terlahir para ilmuwan sekaligus agamawan dengan karya buku dan kitab terbaiknya. Bahkan ada yang sampai tidak sempat untuk menikah karena terlalu sibuk membaca, mengkaji berbagai macam cabang ilmu dan juga menulis tafsir serta mengajarkannya kembali pada murid muridnya. Lalu generasi berikutnya mengajarkan kepada juniornya  begitu terus hingga sekarang. 

Buku seperti itu prosesnya tidak mudah. Butuh riset panjang, siap dengan argumen argumen mendasar yang valid, banyak referensi sebagai hujah atau dalil serta penjelasan ilmiah bahwa kamu menemukan ide baru berbeda dengan buku yang lain. Itu artinya buku karyamu sukses, bisa dianggap masterpiece dan dijadikan materi ajar (kurikulum) di kelas. 

Deliang Alfaraby anak diaspora umur 11 tahun nulis 40 judul buku berbasa asing karena hidupnya di luar negeri. Buku bukunya masuk kategori the best seller untuk anak anak. Jadi 10 buku terlaris di platform jual beli online Amazon. Diundang ke beberapa kampus dan komunitas untuk seminar bagaimana cara nulis buku yang baik dan keren. 

Sejak dari kecil rakyat di negara negara maju sudah dibiasakan dan diajari untuk mandiri, membaca buku, menganalisa segala sesuatu secara rasional makanya jadi pinter. Susah untuk bisa ditipu dengan sesuatu yang palsu dan pencitraan. Di Konoha anak dikasi MBG yang tidak jelas. Dari judulnya saja kita sudah tahu. HP untuk main game online setiap hari dan liat hiburan bodoh. 

Pemimpinnya cuma pandai omon omon dan janji hoax. Ketika ternyata semuanya palsu, hujat caci maki toxic yang muncul. Negara kaya tetapi banyak utang, rakyat miskin. Siswa SLA banyak yang belum lancar membaca dan berhitung. Itu adalah faktanya. Kapan negara akan maju kalau begini padahal satu generasi sudah lewat. Benar-benar tidak punya rasa malu dengan tetangga. Mereka sudah pernah pergi ke angkasa. Mosok Konoha ribut mulu dengan pemimpinnya yang gak jelas visi misinya (absurd). 

# Ini caraku membaca buku.
Pertama mapping random. Jangan cari novel di rak buku resep masakan. Baca judulnya, cari tahu profil penulisnya, klasifikasikan buku itu apa, kemudian membaca sinopsis  yang ada di sampul belakangnya. Syukur jika orang top ngerekom dan meng komentari. Klo buku itu menarik, baca sepintas daftar isinya. Baca topik-topik penting yang ingin diketahui di awal buku, tengah dan di akhir lalu tarik kesimpulan : apakah perlu, wajib dibaca atau just for killing time. Terakhir lihat harganya. Jika oke, masukkan keranjang belanjaan atau kembalikan ke raknya lagi. Tinggal pergi. 

Masyarakat Jepang Korea dan Singapura itu punya budaya membaca buku paling rakus karena disana harganya murah dan disubsidi oleh negara makanya negara bisa sangat maju dan makmur karena isi otak rakyatnya penuh dengan ide-ide dan inovasi terbaru yang kemudian menghasilkan produk bernilai tinggi. Di Konoha buku tidak laku karena harganya mahal dan rakyat tidak mampu beli. Intelektual dan penulis buku tidak dihargai. Orang jadi malas untuk baca buku, ke bodohan massal terjadi. 

Akhirnya yang rugi siapa : para penerbit buku, negara, masyarakat dan penulis bukunya sendiri karena kebijakan negara yang tidak jelas. Hukum lebih suka memihak para penguasa dan pemilik uang. 

Hanya penulis tangguh dan idealismenya tinggi yang masih mampu bertahan. Solusi terakhirnya, memilih menerbitkan sendiri buku bukunya secara indie. (Self publishing) Tentu saja itu cara gambling karena harus punya modal gede, ribet capek ngurusinnya dan tekor bukunya tidak laku.

Masalahnya ribet di ijin, distribusi dan promosi juga menjadi kendalanya karena harus berjuang sangat keras sendirian. Masalah lain, banyaknya buku bajakan. Mereka tanpa merasa bersalah sama sekali mencuri intelektualitas orang seenaknya. Hukum tidak berfungsi karena tidak mampu melindungi hak intelektual seseorang. Capek sendiri kan? 

Padahal di sekolah kita diajar membaca sejak kecil, tapi di Konoha guru tidak mengajarkan cara berpikir saat membaca. Akibatnya, banyak membaca dengan mata, tidak dengan pikiran. Kita menghabiskan satu buku dalam seminggu tanpa benar-benar bisa memahami maknanya. Yang menarik, otak manusia sebenarnya punya sistem alami untuk membaca lebih cepat dan lebih dalam, tapi sistem itu tidak pernah dilatih secara sadar bahwa kita punya kemampuan untuk itu. 

Fakta telah membuktikan, penelitian di University of California menunjukkan bahwa pembaca yang cepat dan efektif itu menggunakan area otak yang berbeda dibanding pembaca biasa. Mereka tidak fokus pada setiap kata, tapi pada pola makna yang dibentuk oleh kalimat. Ini bukan soal kemampuan super, tapi soal kebiasaan otak yang terlatih untuk mencari makna, bukan sekadar melafal kata. Inilah rahasia yang jarang disinggung di sekolah : membaca cepat bukan hasil dari latihan membaca, tapi dari latihan berpikir.

Kesalahan paling umum dalam membaca adalah selama ini kita menganggap setiap kata harus dibaca satu per satu. Padahal otak manusia itu dirancang untuk mengenali pola, bukan huruf. Saat kita memaksa diri membaca kata per kata, kita menahan kerja alami otak yang seharusnya melompat dari makna ke makna. Misal saat membaca berita raning tex, pembaca cepat tidak akan fokus pada tiap kalimat, tetapi langsung mencari konteks dan ide utamanya apa. 

Mereka tidak membaca baris demi baris seperti siswa menghafal buku teks. Mereka menangkap struktur, menyimpulkan maknanya, baru mendalami bagian terpenting. Ini kebiasaan yang bisa dilatih. Mari mulia sekarang kita membaca bukan untuk menyelesaikan, tapi untuk memahami struktur makna di balik teks. Memahami apa yang disampaikan oleh penulisnya.

Nb :
Kalian bisa tulis saran atau pertanyaan. Tq

Next 7.