PENANGGALAN

Minggu, 07 Juni 2026

Minggu, 31 Mei 2026

inspiratif

inspiratif

Kisah Nyata yang Mengharukan dari Mesir 💔

Seorang petugas kebersihan setiap hari meletakkan sebungkus makanan dan sejumlah uang di dalam tempat sampah, agar seorang ibu miskin tidak perlu mencari sisa-sisa makanan di depan anak-anaknya.

Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa hari ketika sang ibu berhenti datang akan mengungkap sebuah rahasia yang membuatnya menangis seperti belum pernah ia tangisi apa pun sepanjang hidupnya.

Pemilik kisah ini bercerita:
Sudah bertahun-tahun yang lalu, aku bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah kawasan pinggiran kota. Kami berjumlah enam orang dan setiap pagi berkeliling menggunakan truk kecil untuk mengosongkan tempat-tempat sampah di depan rumah warga.
Pekerjaan itu berat. Bau sampah menyengat. Banyak orang berlalu-lalang seolah kami tidak ada. Namun aku tetap bersyukur, karena aku yakin rezeki yang halal, meskipun melelahkan, jauh lebih mulia daripada meminta-minta kepada manusia.

Suatu hari, ketika kami tiba di sebuah lingkungan yang tenang seperti biasanya, aku turun dari truk untuk mengosongkan tempat sampah. Saat mendekati salah satunya, aku tiba-tiba terdiam.
Aku melihat seorang wanita berdiri di samping tempat sampah itu. Dengan tangan gemetar ia mengais-ngais isinya, mengumpulkan sisa makanan ke dalam kantong tua.
Di belakangnya berdiri tujuh anak: empat laki-laki dan tiga perempuan.
Wajah mereka pucat. Mata mereka tertuju kepada tangan ibu mereka, seakan sedang menunggu secercah harapan dari tumpukan sampah.
Aku terpaku.
Aku tidak ingin mendekat agar tidak membuatnya malu. Aku juga tidak ingin memanggil siapa pun agar rekan-rekanku tidak melihatnya.
Aku hanya berdiri dari kejauhan sambil menahan air mata.
Wanita itu mencari dengan tergesa dan penuh rasa malu. Ia mengambil sepotong roti, sedikit sayuran, dan beberapa sisa makanan yang masih bisa dimakan. Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri dengan cemas, seolah kemiskinan adalah kejahatan yang harus disembunyikan.
Setelah selesai, ia menggandeng anak-anaknya dan pergi dengan cepat, seakan ingin melarikan diri dari pandangan manusia sebelum lari dari bau sampah itu sendiri.
Ketika aku mendekati tempat sampah tersebut, hatiku terasa hancur.
Aku juga seorang ayah.
Aku tahu bagaimana rasanya melihat seorang anak kelaparan dan menatap orang tuanya dengan penuh harapan.
Keesokan harinya kami kembali ke tempat yang sama.
Aku segera berlari menuju tempat sampah itu sebelum rekan-rekanku tiba. Aku khawatir ada yang melihat wanita itu lalu melukainya dengan kata-kata atau pandangan yang merendahkan.
Dan benar saja.
Ia datang lagi.
Wanita yang sama.
Anak-anak yang sama.
Rasa malu yang sama.
Dan kelaparan yang sama yang tak mengenal belas kasihan.

Sejak hari itu aku memutuskan untuk membantunya, tetapi dengan cara yang tidak merendahkan martabatnya.
Sesampainya di rumah, aku berkata kepada istriku:
"Besok siapkan makanan yang banyak. Roti, nasi, ayam kalau ada, dan apa pun yang bisa kita masukkan ke dalam kantong."
Istriku bertanya,
"Untuk siapa?"
Aku menjawab,
"Untuk seorang ibu yang mencari makan di tempat sampah demi memberi makan anak-anaknya."
Istriku terdiam sesaat.
Lalu ia masuk ke dapur.
Keesokan paginya ia menyerahkan sebuah kantong hitam besar berisi makanan yang masih baik dan tertata rapi. Aku pun menambahkan sejumlah uang ke dalamnya.
Aku meminta sopir agar kami mendatangi lingkungan itu terlebih dahulu.
Sebelum wanita itu datang, aku meletakkan kantong hitam tersebut di dalam tempat sampah pada posisi yang mudah terlihat, lalu bersembunyi agak jauh.
Beberapa menit kemudian wanita itu datang bersama anak-anaknya.
Seperti biasa ia mulai mencari-cari.
Lalu ia menemukan kantong itu.
Dengan hati-hati ia membukanya.
Saat melihat makanan bersih dan sejumlah uang di dalamnya, tangannya seketika berhenti.
Ia memandang ke sekeliling dengan bingung dan takut.
Kemudian ia memeluk kantong itu erat-erat di dadanya dan menangis dalam diam.
Sementara anak-anaknya menatap makanan itu dengan mata berbinar, seolah menemukan hari raya di dalam sebuah kantong hitam.
Hari itu ia tidak mengambil apa pun dari tempat sampah.
Ia membawa kantong tersebut pulang sambil mengusap air matanya.
Sedangkan aku berdiri di balik truk dan menangis.
Tetapi kali ini aku menangis karena bahagia.
Sejak hari itu aku melakukan hal yang sama setiap pagi.
Aku menaruh makanan dan uang dalam kantong hitam di tempat yang sama.
Aku melihatnya dari kejauhan mengambil kantong itu, menyaksikan kebahagiaan di wajah anak-anaknya, lalu kembali bekerja seolah aku telah memiliki seluruh dunia.

Bahkan setiap akhir bulan aku menyisihkan hampir setengah gajiku untuk mereka.
Padahal gajiku tidak besar.
Namun aku selalu berkata dalam hati:
"Aku masih punya rumah, istri, dan kehidupan yang layak. Sedangkan ia memiliki tujuh anak dan rasa lapar yang tidak bisa menunggu."

Bulan demi bulan berlalu.
Lalu aku mulai menyadari sesuatu yang aneh.
Awalnya ia selalu datang bersama ketujuh anaknya.
Kemudian ia mulai datang sendirian.
Aku sempat senang.
Mungkin anak-anaknya sudah bersekolah, pikirku.
Atau mungkin ia tidak ingin mereka melihat ibunya mencari makanan di dekat tempat sampah.
Aku terus meletakkan kantong itu setiap hari.
Hingga suatu saat ia tidak datang lagi.
Sehari.
Dua hari.
Seminggu.
Kantong yang kutinggalkan tetap berada di tempatnya, tidak ada yang mengambil.
Aku mulai cemas.
Hatiku mengatakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Aku bertanya kepada beberapa penduduk sekitar, tetapi aku tidak tahu namanya.

Aku hanya bisa berkata:
"Seorang wanita yang biasa datang ke tempat sampah di ujung jalan."
Akhirnya seorang lelaki tua berkata:
"Mungkin yang kau maksud Ummu Khalid. Seorang janda dengan banyak anak. Tapi sudah lama kami tidak melihatnya."

Aku segera pergi ke rumah yang ditunjukkan lelaki itu.
Rumahnya sederhana.
Pintunya tua.
Dindingnya kusam.
Aku mengetuk pintu.
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun membukanya.
Aku bertanya,
"Apakah Ummu Khalid tinggal di sini?"
Wajahnya langsung berubah.
"Apakah Anda mengenal ibu saya?"
Aku menjawab terbata-bata,
"Aku... pernah membantunya dari jauh."
Ia mempersilahkanku masuk.
Ketika masuk, mataku tertuju pada sebuah foto wanita itu yang tergantung di dinding.
Foto itu dihiasi pita hitam.
Saat itu aku langsung mengerti.
Pemuda itu berkata dengan suara sedih,
"Ibu kami meninggal dua bulan yang lalu."
Kakiku terasa lemas.
Aku duduk dan air mata mengalir tanpa bisa kutahan.

Lalu ia berkata,
"Sebelum meninggal, ibu selalu bercerita tentang seorang lelaki yang tidak pernah ia kenal. Lelaki yang selalu meletakkan makanan dan uang dalam kantong hitam. Ibu selalu berkata, 'Dia adalah malaikat yang Allah kirim untuk anak-anakku.'"

Aku tak sanggup berkata apa-apa.
Kemudian seorang gadis datang membawa sebuah kotak kecil.
Ia berkata,
"Ibu meninggalkan ini untuk pemilik kantong hitam. Ia berpesan, jika suatu hari lelaki itu datang, berikanlah kepadanya."
Aku membuka kotak itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya ada secarik surat tua, beberapa keping uang receh, dan foto anak-anaknya ketika masih kecil.

Aku membuka surat itu.
Isinya:
"Untuk lelaki yang menjaga kehormatanku sebelum memberi makan anak-anakku...
Aku tidak mengenal namamu, tetapi Allah mengenalmu.
Aku mencari makanan di tempat sampah dengan hati yang hancur karena malu. Namun engkau membuatku pulang seolah aku membeli makanan itu dengan tanganku sendiri.
Engkau tidak hanya menyelamatkanku dari kelaparan, tetapi juga menyelamatkan anak-anakku dari melihat ibunya dalam keadaan terhina.
Maafkan aku karena tidak sempat berterima kasih kepadamu semasa hidupku.
Dan setelah aku tiada, doakanlah aku."
Aku tidak sanggup melanjutkan membaca karena tangisku semakin pecah.
Namun kejutan terbesar belum berakhir.

Putra sulungnya memegang tanganku lalu berkata:
"Paman, Anda tidak tahu apa yang telah Anda lakukan. Uang yang Anda berikan membuat kami bisa melanjutkan sekolah. Sekarang saya menjadi guru. Adik perempuan saya menjadi perawat. Adik laki-laki saya menjadi insinyur. Kami semua tumbuh dengan mendengar ibu berkata: 'Jangan pernah lupakan pemilik kantong hitam itu.'"
Aku menangis lebih keras lagi.
Aku tidak pernah menyangka bahwa makanan yang kutaruh di dalam tempat sampah ternyata menjadi sebab berubahnya masa depan satu keluarga.

Lalu pemuda itu berkata:
"Ibu berpesan, jika kami menemukan Anda suatu hari nanti, sampaikan satu kalimat ini:
'Anda tidak memberikan sisa harta Anda kepada kami, tetapi Anda telah memberikan kehidupan kepada kami.'"

Aku keluar dari rumah itu sebagai orang yang berbeda.
Aku hanyalah seorang petugas kebersihan biasa.
Aku tidak memiliki harta yang banyak.
Tidak memiliki jabatan yang tinggi.
Namun hari itu aku memahami bahwa rahmat dan kasih sayang yang lahir dari hati dapat mencapai tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan.
Sejak saat itu, setiap kali aku melihat tempat sampah, aku tidak lagi melihat sampah semata.
Aku melihat seorang ibu yang berjuang mencari makanan untuk anak-anaknya.
Aku melihat sebuah kantong hitam kecil yang menjadi jalan keselamatan.

Dan aku berkata dalam hati:
"Seseorang tidak harus menjadi kaya untuk mengubah hidup orang lain. Terkadang cukup dengan melihat penderitaan mereka, lalu menolong tanpa membuka aib dan tanpa merendahkan martabatnya."
Pelajaran dari kisah ini: Sedekah terbaik bukan hanya yang mengenyangkan perut, tetapi juga yang menjaga kehormatan dan harga diri orang yang menerima. Sebab terkadang, menjaga martabat seseorang lebih berharga daripada bantuan itu sendiri. ❤️

Jumat, 22 Mei 2026

Rabu, 20 Mei 2026

#renungan

#renungan


1. Ingat Siapa yang Melembutkan Hati Kamu tak bisa memperbaikinya sendiri. Mintalah pada Dzat yang Membolak-balikkan hati. "Ya Mugallibal Quluub, tsabbit qalbi 'ala diinika." "Wahai Dzat yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." Ucapkanlah setiap hari, karena kelembutan dimulai dari sana.
2. Bacalah Al-Qur'an dengan Perlahan Jangan terburu-buru. Bukan untuk menyelesaikan, tapi untuk merasakan. "Seandainya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah." (QS. Al-Hasyr: 21) Jika gunung saja bergetar, mengapa hati tidak?
3. Duduklah Sendiri Bersama Allah Tanpa ponsel. Tanpa musik. Kamu hanya berbisik, "Ampunilah aku." Hati sembuh dalam kesunyian, karena di sanalah keikhlasan hidup.

Sabtu, 16 Mei 2026

#reminder.

#reminder.

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ»
”Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling memata-matai, dan janganlah kalian saling bertengkar (marah). Dan janganlah seseorang di antara kalian membeli barang yang sudah ditawar saudaranya yang lain.  Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Mukmin itu saudara bagi Mukmin yang lain.  Ia tidak mendzaliminya, menghinanya, dan meremehkannya”.[HR. Muttafaq Alaihi]

Jumat, 15 Mei 2026

Senin, 11 Mei 2026

#3.

#3.




Aroma keras anggur merah dalam gelas tipis bertangkai panjang dalam genggaman dan asap rokok, menerbangkanya ke masa lalu Martini. Dimana dulu dirinya hanyalah seorang gadis kampung yang terlempar ke sebuah peradaban asing  kota besar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Menjadi penghuni lokalisasi prostitusi karena merasa dirinya merasa kotor dan sudah tidak lagi memiliki harga diri setelah mendapat haid yang pertama. Lalu tiga orang pacarnya menggaulinya hingga hamil sewaktu masih SD. Kemudian semua tetangga jijik melihatnya bagai sampah busuk dan wabah penyakit menular yang pantas untuk dijauhi. 
Keluarganya malu menanggung aib, lalu mengusirnya. Setiap malam dirinya harus melayani lelaki yang berbeda-beda hingga seorang bule menebus dan membawanya pergi ke luar negri.
Berbagai negara pernah dihuni dan disinggahi. Puluhan laki-laki asing datang dan pergi silih berganti setelah puas menikmati tiap inchi tubuhnya. Seluruh kemaksiatan dan kenikmatan yang pernah ditawarkan dunia sudah puas ia nikmati. Kemewahan yang paling memabukkan juga sudah biasa baginya. Sampai datang Marco De La Vega menghancur-leburkan seluruh mimpi indahnya. Seluruh kekayaan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun habis ludes di kuras laki-laki pelaut bajingan itu. Janjinya yang akan menikahi dan mengantarnya pulang ke kampung halaman tak pernah terjadi. Terakhir, dirinya malah dilemparkan keliang neraka, menunggu ajal setelah virus ganas HIV yang menderanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. 
Anggur berkadar alkohol tinggi mengaliri sekujur anggota tubuh Martini bagai sengatan listrik ribuan  watt, menghanguskan syaraf dan organ tubuh yang dilewati. Minuman paling berharga itu dulu untuk mencuci kakinya. Dan rokok termahal selalu terselit di mulut mungilnya. Pesta dan judi sudah menjadi agenda harian.
Pelahan muncul tabir pelangi naik kematanya yang membuatnya oleng. Sudah sangat lama minuman seperti itu tidak dinikmatinya. Martini membetulkan posisi bersandarnya pada bantal setelah kesadarannya kembali hinggap. Tubuhnya mulai terasa aneh. Sepertinya ingin melayang ke udara setelah sengatan listrik itu sedikit mereda.
Sekali lagi, kerongkongan dan paru-parunya dipenuhi oleh asap rokok. Ada kenyamanan luar biasa yang dinikmati untuk yang terakhir kalinya selain rasa pedih dan panas yang menjalar seperti api magma mendidih dalam dadanya. Bayangan orang tuanya dikampung muncul silih berganti dengan bayangan semua laki-laki yang pernah tidur dengannya dan  seluruh dosa yang ditimbunnya. Lalu muncul  monster iblis  sangat mengerikan berwajah Marco yang bertanduk dan bertaring.  Dengan  ganas ia mencabik-cabik sekujur tubuhnya yang rapuh hingga jadi serpihan-serpihan kecil.
Wanita reput itu sejenak meraung menahan gejolak emosinya. Kemudian menggeleng dengan mimik mengerikan menahan rasa sakit yang sekarat. Tangan dan tubuhnya kian bergeter hebat.
Takut anggur dalam gelas tumpah, ia meminumnya dengan sekali teguk. Siksaan rasa pedih dari organ tubuhnya yang sudah hangus terbakar, membuat pandangan matanya berubah gelap. Lalu muncul jutaan bintang kecil yang memusingkan kepalanya sebelum segalanya berubah serupa monster mengerikan.
Mendadak ia menemukan ide bagus. Gelas anggur tipis berkaki panjang yang sudah kosong itu dibungkus dengan ujung kain sprey. Sebuah ayunan keras ke dinding tembok membuat gelas itu hancur lebur. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia kumpulkan serpihan kaca kecil tajam mengkilat dalam genggaman tangannya yang gemetaran. Detik berikutnya benda setajam silet itu sudah masuk merobek seluruh organ tubuh yang dilewatinya. 
Martini sekuat tenaga mencoba menahan gelegak magma yang mulai bergolak tak terkontrol. Rasa pedih yang luar biasa itu naik muntab ke atas mata menghanguskan seluruh syaraf otaknya. Dadanya bergemuruh hebat menahan gelegak api magma yang siap menyembur keluar. Tabir merah yang menutup matanya berubah gelap. Gemuruh magma dalam dadanya tiba-tiba muntab keluar bersama seluruh isinya. Wanita malang itu meraung keras setelah memuntahkan cairan amis berwarna hitam pekat. Melumuri dinding tembok dan kain sprey dengan bau memualkan. Detik berikutnya, ia terdiam. Seperti saat dirinya tidur nyenyak. Yah, ia sedang tidur nyenyak. Untuk selama-lamanya.
Suster kepala dan suster gendut menemukan Marini sudah tidak bernyawa di atas zalnya. Keras seperti mummy, lima jam setelah kematiannya. Mereka berdua melakukan misa requiem di depan jenazah yang sudah kaku. 
in paradisum deducant te angeli.
#2.

#2.


Wanita malang itu bernama Martini. Karena nama itulah yang tertera pada papan nama disudut zal. Sekali lagi, wanita reput layaknya tengkorak hidup itu diam saja. Tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali usai dido’akan. Suster gendut menggeram keras seperti auman singa lapar yang siap untuk  menerkam dan membunuh mangsanya karena Martini sudah berlaku sangat tidak sopan di hadapan Tuhannya. 
Suster kepala menyodokkan ujung sikunya yang membuat ajudan itu terdiam. Suster gendut membuat tanda salip dengan tangan sebagai bentuk penyesalan palsunya.
“Puji Tuhan, hari ini kamu adalah gadis yang paling beruntung di dunia karena Yesus telah memilihmu sebagai mempelai kecilnya anakku.” Suster kepala tersenyum lembut ke arah Martini dengan tatapan  kasih sayang. Lebih tepatnya : iba yang terpaksa.
Ya. Dan aku akan menjadikan kalian berdua sebagai pelayan-pelayanku nanti di neraka! Tolol! Gumam Martini setengah mendengus sinis karena selama ini ia tidak pernah tahu agamanya sendiri. Hanya sewaktu di kampung dulu setiap hari raya idul fitri dirinya disuruh oleh orang tuanya mengantar beras beberapa canting dalam baskom kecil ke balai desa. Lalu panitia zakat akan mengantar kerumahnya kembali dengan beras yang lebih banyak. Lalu bisa makan ketupat opor ayam kampung sepuas-puasnya, pemberian para tetangga.
Badai salju di luar terus menerus turun menggedor-gedor pintu dan daun jendela dengan kerasnya hingga nyaris seluruh bangunan kuno itu terkubur oleh berton-ton salju, seolah ingin membekukan seluruh isi didalamnya. Tapi udara di dalam ruangan tetap stabil karena dua buah mesin penghangat ruangan bekerja dengan baik. 
“Well. Apakah masih ada permintaan yang lain, sayang?” Suster kepala basa-basi sebelum pergi. “Pada hari istimewa ini bunda akan berusaha melayani apapun yang kamu inginkan.” Ujarnya agar orang yang diajak bicara punya semangat dan bahagia pada hari natal ini. 
Martini justru muak mendengarnya. 
Busyet! What do you talking about?! Itu hanya akan membuat kita repot suster! Jangan kasi kesempatan apa pun pada sampah busuk ini. Sebentar lagi juga dia akan mati! Suster gendut itu kembali memaki-maki penuh kebencian di dalam hati.
“Terimakasih.“ Akhirnya mulut wanita malang itu bisa terbuka.
“Apa yang kamu inginkan anakku?! Tapi jangan minta bunda untuk mengajakmu jalan-jalan ke taman. Di luar sedang ada badai salju. Cuaca benar-benar buruk tahun ini.”
“Iya. Badai salju itu bisa meremukkan tulang-belulangmu ke tembok!” Umpat suster gendut tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki-makinya.
“Aku sema sekali tidak menginginkan hadiah itu.” Ujar Martini tanpa ekspresi. 
“Sebaiknya untukku saja! Thanks!” Sangat cepat tangan suster gendut menyambar kado yang sejak tadi membuatnya ngiler. “Cincin kawin ini juga tidak cocok dengan  jari manismu. Semoga Tuhan memberkatimu.” Ia langsung menyimpannya ke dalam saku jubah panjangnya, penuh kegirangan seorang pencuri yang telah  mendapatkan  apa yang diinginkannya.
Suster kepala menatap dengan perasaan bingung bercampur malu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh kejadian itu terjadi sangat cepat.
“Aku hanya menginginkan segelas anggur merah dan sebatang rokok pada natal ini, kalau ada.”  Pinta Martini sekenanya.
“Ok, deal! Aku akan segera mengambilkannya untukmu.” Suster gendut itu berlari secepat tikus got, tanpa menghiraukan teriakan suster kepala yang mencoba menahannya.
“Ma’af anakku. Yang kamu minta itu benda larangan Tuhan. Sebaiknya tukar permintaanmu dengan yang lain,“ Suster kepala mencoba membujuk.
“Here there are!” Suster gendut tiba-tiba sudah muncul  lagi memberikan pada Martini seperti apa yang dimintanya. “Senang berbisnis denganmu kawan. Ok, selamat menikmati. Semoga itu bisa memuaskanmu. Selamat natal!”  
Suster tua itu terperangah. “Dari mana benda haram itu kau dapatkan?!---“ Nadanya tertahan bercampur heran dan wajahnya memerah penuh amarah.
“Tentu saja ia mencurinya dari dalam lemari setan dengan sepengetahuan Tuhan suster.” Ujar Martini tanpa ekspresi sambil menyalakan rokoknya.
Seketika suster tua itu pergi meninggalkan mereka berdua dengan kemarahan yang luar biasa. “How dare you! Semoga Tuhan mengampuni kalian!” Katanya sambil pergi, tanpa menoleh-noleh lagi. 
“Kamu-pun boleh pergi.  Aku ingin sendiri.” Pinta Martini dengan nada  ketus.
“Sure. Aku baru saja ingin mengatakannya.” Suster gendut,  kesal. “Selamat natal dan selamat menikmati hadiah dari neraka!” Ia kabur setelah mencuri kotak satunya lagi.
“Thanks. Suster kelihatan sangat cantik hari ini.“ Puji Martini setengah mengejek.
“O’yeach, Thanks a lot!--” Suster tersenyum kegirangan. Pujian itu melambungkannya  ke langit. Ia mengembalikan kotak coklat yang baru  dicurinya. “Ma’af, terbawa,” katanya, tersenyum malu-malu

Al ghazali. 
الحسد من الأمراض العظيمة للقلوب. ولا تداوى أمراض القلوب إلا بالعلم والعمل. والعلم النافع لمرض الحسد أن تعرف تحقيقاً أن الحسد ضرر عليك في الدنيا والدين, وأنه لا ضرر فيه على المحسود في الدنيا والدين, بل ينتفع به فيهما, ومهما عرفت هذا عن بصيرة, ولم تكن عدو نفسك وصديق عدوك فارقت الحسد لا محالة
“Hasad termasuk dari penyakit-penyakit hati yang paling besar.  Penyakit-penyakit hati tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal (perbuatan nyata).  Ilmu yang bermanfaat untuk penyakit hasad adalah Anda mengetahui secara mendalam bahwa hasad merupakan bahaya bagi dirimu di dalam urusan dunia dan agama.  Dan hasad tidak membahayakan bagi orang yang dihasadi dalam urusan dunia dan agama, bahkan hasad bermanfaat baginya dalam urusan keduanya.  Semampang Anda mengetahui hal ini dari pemikiran yang mendalam, maka Anda tidak akan menjadi musuh jiwamu dan sahabat musuhmu, dan tidaklah mustahil Anda bisa berpisah dengan hasad (kedengkian)”.
#ibroh

#ibroh

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ»لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ»
”Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling memata-matai, dan janganlah kalian saling bertengkar (marah). Dan janganlah seseorang di antara kalian membeli barang yang sudah ditawar saudaranya yang lain.  Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Mukmin itu saudara bagi Mukmin yang lain.  Ia tidak mendzaliminya, menghinanya, dan meremehkannya”.[HR. Muttafaq ’Alaihi]
Dari Zubair ra diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
 
«دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ»
"Kalian harus menjauhi penyakit umat-umat sebelum kalian yaitu kedengkian dan kebencian. Kebencian adalah perkara yang akan memangkas. Aku tidak berkata memangkas rambut tetapi memangkas agama."[HR Imam Baihaqi]
”Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling memata-matai, dan janganlah kalian saling bertengkar (marah). Dan janganlah seseorang di antara kalian membeli barang yang sudah ditawar saudaranya yang lain.  Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Mukmin itu saudara bagi Mukmin yang lain.  Ia tidak mendzaliminya, menghinanya, dan meremehkannya”.
[HR. Muttafaq ’Alaihi]
Dari Zubair ra diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
«دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ»
"Kalian harus menjauhi penyakit umat-umat sebelum kalian yaitu kedengkian dan kebencian. Kebencian adalah perkara yang akan memangkas. Aku tidak berkata memangkas rambut tetapi memangkas agama."[HR Imam Baihaqi]
#cerpen.

#cerpen.

Di ujung waktu.
Yuli Kendal. 

Seluruh warga  menunggu ramalan cuaca hari ini dari tv dan siaran radio dengan penuh cemas sambil berharap cuaca buruk segera berakhir, karena  keadaan  terus memburuk. Bahkan  Wali kota  sendiri yang harus memperingatkan  agar warga tidak keluar dari rumah atau melakukan perjalanan jauh dalam beberapa hari ini. Dikhawatirkan akan ada badai salju besar. Bagi warga yang membutuhkan pertolongan darurat, untuk segera menghubungi tim SAR atau Pos  relawan terdekat yang siaga 24 jam. Warga juga diingatkan untuk menyiapkan generator listrik di rumah jika nanti badai salju sampai merobohkan sejumlah pohon dan memutuskan pasokan energi listrik. Memang selalu akan seperti itu menjelang akhir tahun.
Panti sosial merangkap pusat rehabilitasi penderita HIV AIDS di pinggiran kota tua itu, jauh-jauh hari sudah mempersiapkan pengamanan dengan amat baik. Mereka memanfaatkan ruang bawah tanah sebagai tempat untuk berlindung hingga cuaca benar-benar sudah membaik. 
Angin bertiup sangat kencang menerbangkan serpihan-serpihan salju tebal dan mematahkan ranting-ranting pohon pinus yang penuh diselimuti salju. Dari dalam ruang terdengar suara berderak-derak kepingan salju menghantam dinding-dinding pintu jendela yang sudah diberi pengaman dengan keping-kepingan papan kayu tebal dari luar.
Bangunan kastil kuno yang lebih mirip sebuah penjara itu nampak beku seluruhnya, terbungkus salju putih dari luar tanpa terdengar suara keriangan di dalamnya, meski hari ini adalah hari natal yang seharusnya dirayakan dengan penuh suka cita. Mereka larut dalam ratap keheningan dan doa pengharapan hampa yang menyedihkan. 
Warga hanya menghabiskan waktu di depan gadgednya dan pesawat TV yang menayangkan opera sabun dan kartun kisah natal sambil menghangatkan badan di depan tungku-tungku perapian. Bagi keluarga kaya dan modern, tungku perapian seperti itu fungsinya sudah diganti dengan penghangat ruangan electrik. Atau mereka memilih pergi berlibur ke negara beriklim sub tropis.
Hari ini tidak ada satupun tamu yang datang ke panti melakukan  kunjungan sosial dengan membawa hadiah-hadiah natal seperti biasanya. Keluarga mereka juga tidak ada yang  bisa datang. Seluruh acara dan rencana pesta yang sudah lama ditunggu-tunggu,  berantakan begitu saja. Ini benar-benar natal paling menyedihkan bagi para korban HIV dan rehabilitasi narkoba seperti mereka.
Mereka sengaja terisolasi dari masyarakatnya karena mereka  adalah  noda dan sampah beracun yang pantas  disingkirkan. Masih  beruntung seorang hartawan asal Marokko menghibahkan kastil berarsitektur Ghotic itu untuk panti sosial. Letaknya 3 kilo dari Thomas Avenue Malbrook di kaki gunung yang tenang nyaman dengan sungai kecil berair jernih di sisinya.
Wanita berkulit putih kurus tinggi bersama asistennya, suster  gendut  mendatangi setiap zal pesakit untuk memberikan hadiah dan pelayanan doa natal pada seluruh penghuni panti satu persatu seperti  biasanya setiap  sebulan sekali. Mereka adalah penghuni biara tidak jauh dari panti. Hanya itu kebahagian yang bisa diterima pada natal ini setelah melakukan ritual sakramen.
“Selamat natal anakku. Tuhan memberkatimu.” Suster kepala berwajah bersih itu menyapa dengan keramahan tulus seorang bunda yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjadi pelayan Tuhan dan menebar kasih sayang  pada sesamanya. 
Wanita kerontang berambut kelabu karena uban itu diam saja di bangsal  yang lebih pas sebagai ruangan isolasi bagi para penghuni yang sudah tidak memiliki harapan hidup. Wanita  berpostur kecil itu adalah satu-satunya wanita Asia yang tersesat  di ujung neraka dunia. Ia tidak sendirian disana. Masih ada belasan yang bernasib sama seperti dirinya. Mereka akan mati mengenaskan secara pelan-pelan digerogoti virus maut HIV. 
“Kemarin Marco mengirimkan paket hadiah natal khusus ini untukmu, sayang.” Ketua biara memberikan sebuah kotak kecil berwarna pink yang terikat pita merah. Bunga  rose warna merah dan sekotak coklat. “pesan fax-nya ia sangat menyesal dan minta maaf karena tidak bisa merayakan natal bersamamu. Saat ini dia sedang berada di Selat Malaka menuju Hongkong. Sepulangnya dari sana, dia janji akan datang menjemput dan membawamu ke pelaminan. Ia sudah memesan gaun pengantin. Mungkin isi dalam kotak ini adalah cincin kawin. Selamat berbahagia ya sayang,” 
Bajingan tengik itu tidak akan berhenti bicara seperti itu sampai aku memotong-motong lidahnya. Wanita malang yang sudah satu ttahun tinggal di ruangan itu menggumam.  Kondisi tubuhnya sudah  seperti tengkorak. Hanya gerakan matanya saja yang masih bisa dikenali jika dirinya masih hidup. 
“Mari kita berdoa bersama-sama anakku.” Suster kepala dan ajudannya menangkupkan kedua buah tangannya, berlutut  sambil memejamkan mata. Berdoa dengan takzim dengan patung Yesus yang  tersalip dalam genggamannya. 
Ekor mata suster gendut itu terus melirik kado terbungkus tali pita merah yang ada di depannya dengan penuh selera. Cincin kawin itu hanya pantas untukku karena  sebentar lagi kau akan mampus. Malaikat maut  akan segera menghancur leburkan tulang belulangmu dan melempar  ke dasar neraka. Batinnya berharap. 
Cukup lama suster kepala memberikan pelayanan doa  dengan diam mematung yang membuat suster gendut mengeluh karena terlalu lama berlutut yang  membuat kakinya kesemutan dan penat. 
Tuhan tidak akan mendengar do’amu pada orang terkutuk ini suster. Sebaiknya do’akan saja dia -cepat mati, agar tidak merepatkan kita lagi! Lagi-lagi suster gendut itu mengumpat-umpat penuh iri dari kebencian yang sudah tidak bisa disembunyikannya lagi. Di usianya yang sudah melewati empat puluh tahun, tidak ada satupun laki-laki kaya dan sopan yang tertarik padanya. Karena alasan itulah ia  menyembunyikan diri ke dalam biara ini hingga bosan. Mungkin juga seumur hidupnya.