PENANGGALAN

Senin, 11 Mei 2026

#cerpen.

Di ujung waktu.
Yuli Kendal. 

Seluruh warga  menunggu ramalan cuaca hari ini dari tv dan siaran radio dengan penuh cemas sambil berharap cuaca buruk segera berakhir, karena  keadaan  terus memburuk. Bahkan  Wali kota  sendiri yang harus memperingatkan  agar warga tidak keluar dari rumah atau melakukan perjalanan jauh dalam beberapa hari ini. Dikhawatirkan akan ada badai salju besar. Bagi warga yang membutuhkan pertolongan darurat, untuk segera menghubungi tim SAR atau Pos  relawan terdekat yang siaga 24 jam. Warga juga diingatkan untuk menyiapkan generator listrik di rumah jika nanti badai salju sampai merobohkan sejumlah pohon dan memutuskan pasokan energi listrik. Memang selalu akan seperti itu menjelang akhir tahun.
Panti sosial merangkap pusat rehabilitasi penderita HIV AIDS di pinggiran kota tua itu, jauh-jauh hari sudah mempersiapkan pengamanan dengan amat baik. Mereka memanfaatkan ruang bawah tanah sebagai tempat untuk berlindung hingga cuaca benar-benar sudah membaik. 
Angin bertiup sangat kencang menerbangkan serpihan-serpihan salju tebal dan mematahkan ranting-ranting pohon pinus yang penuh diselimuti salju. Dari dalam ruang terdengar suara berderak-derak kepingan salju menghantam dinding-dinding pintu jendela yang sudah diberi pengaman dengan keping-kepingan papan kayu tebal dari luar.
Bangunan kastil kuno yang lebih mirip sebuah penjara itu nampak beku seluruhnya, terbungkus salju putih dari luar tanpa terdengar suara keriangan di dalamnya, meski hari ini adalah hari natal yang seharusnya dirayakan dengan penuh suka cita. Mereka larut dalam ratap keheningan dan doa pengharapan hampa yang menyedihkan. 
Warga hanya menghabiskan waktu di depan gadgednya dan pesawat TV yang menayangkan opera sabun dan kartun kisah natal sambil menghangatkan badan di depan tungku-tungku perapian. Bagi keluarga kaya dan modern, tungku perapian seperti itu fungsinya sudah diganti dengan penghangat ruangan electrik. Atau mereka memilih pergi berlibur ke negara beriklim sub tropis.
Hari ini tidak ada satupun tamu yang datang ke panti melakukan  kunjungan sosial dengan membawa hadiah-hadiah natal seperti biasanya. Keluarga mereka juga tidak ada yang  bisa datang. Seluruh acara dan rencana pesta yang sudah lama ditunggu-tunggu,  berantakan begitu saja. Ini benar-benar natal paling menyedihkan bagi para korban HIV dan rehabilitasi narkoba seperti mereka.
Mereka sengaja terisolasi dari masyarakatnya karena mereka  adalah  noda dan sampah beracun yang pantas  disingkirkan. Masih  beruntung seorang hartawan asal Marokko menghibahkan kastil berarsitektur Ghotic itu untuk panti sosial. Letaknya 3 kilo dari Thomas Avenue Malbrook di kaki gunung yang tenang nyaman dengan sungai kecil berair jernih di sisinya.
Wanita berkulit putih kurus tinggi bersama asistennya, suster  gendut  mendatangi setiap zal pesakit untuk memberikan hadiah dan pelayanan doa natal pada seluruh penghuni panti satu persatu seperti  biasanya setiap  sebulan sekali. Mereka adalah penghuni biara tidak jauh dari panti. Hanya itu kebahagian yang bisa diterima pada natal ini setelah melakukan ritual sakramen.
“Selamat natal anakku. Tuhan memberkatimu.” Suster kepala berwajah bersih itu menyapa dengan keramahan tulus seorang bunda yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjadi pelayan Tuhan dan menebar kasih sayang  pada sesamanya. 
Wanita kerontang berambut kelabu karena uban itu diam saja di bangsal  yang lebih pas sebagai ruangan isolasi bagi para penghuni yang sudah tidak memiliki harapan hidup. Wanita  berpostur kecil itu adalah satu-satunya wanita Asia yang tersesat  di ujung neraka dunia. Ia tidak sendirian disana. Masih ada belasan yang bernasib sama seperti dirinya. Mereka akan mati mengenaskan secara pelan-pelan digerogoti virus maut HIV. 
“Kemarin Marco mengirimkan paket hadiah natal khusus ini untukmu, sayang.” Ketua biara memberikan sebuah kotak kecil berwarna pink yang terikat pita merah. Bunga  rose warna merah dan sekotak coklat. “pesan fax-nya ia sangat menyesal dan minta maaf karena tidak bisa merayakan natal bersamamu. Saat ini dia sedang berada di Selat Malaka menuju Hongkong. Sepulangnya dari sana, dia janji akan datang menjemput dan membawamu ke pelaminan. Ia sudah memesan gaun pengantin. Mungkin isi dalam kotak ini adalah cincin kawin. Selamat berbahagia ya sayang,” 
Bajingan tengik itu tidak akan berhenti bicara seperti itu sampai aku memotong-motong lidahnya. Wanita malang yang sudah satu ttahun tinggal di ruangan itu menggumam.  Kondisi tubuhnya sudah  seperti tengkorak. Hanya gerakan matanya saja yang masih bisa dikenali jika dirinya masih hidup. 
“Mari kita berdoa bersama-sama anakku.” Suster kepala dan ajudannya menangkupkan kedua buah tangannya, berlutut  sambil memejamkan mata. Berdoa dengan takzim dengan patung Yesus yang  tersalip dalam genggamannya. 
Ekor mata suster gendut itu terus melirik kado terbungkus tali pita merah yang ada di depannya dengan penuh selera. Cincin kawin itu hanya pantas untukku karena  sebentar lagi kau akan mampus. Malaikat maut  akan segera menghancur leburkan tulang belulangmu dan melempar  ke dasar neraka. Batinnya berharap. 
Cukup lama suster kepala memberikan pelayanan doa  dengan diam mematung yang membuat suster gendut mengeluh karena terlalu lama berlutut yang  membuat kakinya kesemutan dan penat. 
Tuhan tidak akan mendengar do’amu pada orang terkutuk ini suster. Sebaiknya do’akan saja dia -cepat mati, agar tidak merepatkan kita lagi! Lagi-lagi suster gendut itu mengumpat-umpat penuh iri dari kebencian yang sudah tidak bisa disembunyikannya lagi. Di usianya yang sudah melewati empat puluh tahun, tidak ada satupun laki-laki kaya dan sopan yang tertarik padanya. Karena alasan itulah ia  menyembunyikan diri ke dalam biara ini hingga bosan. Mungkin juga seumur hidupnya.