PENANGGALAN

Senin, 11 Mei 2026

#2.


Wanita malang itu bernama Martini. Karena nama itulah yang tertera pada papan nama disudut zal. Sekali lagi, wanita reput layaknya tengkorak hidup itu diam saja. Tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali usai dido’akan. Suster gendut menggeram keras seperti auman singa lapar yang siap untuk  menerkam dan membunuh mangsanya karena Martini sudah berlaku sangat tidak sopan di hadapan Tuhannya. 
Suster kepala menyodokkan ujung sikunya yang membuat ajudan itu terdiam. Suster gendut membuat tanda salip dengan tangan sebagai bentuk penyesalan palsunya.
“Puji Tuhan, hari ini kamu adalah gadis yang paling beruntung di dunia karena Yesus telah memilihmu sebagai mempelai kecilnya anakku.” Suster kepala tersenyum lembut ke arah Martini dengan tatapan  kasih sayang. Lebih tepatnya : iba yang terpaksa.
Ya. Dan aku akan menjadikan kalian berdua sebagai pelayan-pelayanku nanti di neraka! Tolol! Gumam Martini setengah mendengus sinis karena selama ini ia tidak pernah tahu agamanya sendiri. Hanya sewaktu di kampung dulu setiap hari raya idul fitri dirinya disuruh oleh orang tuanya mengantar beras beberapa canting dalam baskom kecil ke balai desa. Lalu panitia zakat akan mengantar kerumahnya kembali dengan beras yang lebih banyak. Lalu bisa makan ketupat opor ayam kampung sepuas-puasnya, pemberian para tetangga.
Badai salju di luar terus menerus turun menggedor-gedor pintu dan daun jendela dengan kerasnya hingga nyaris seluruh bangunan kuno itu terkubur oleh berton-ton salju, seolah ingin membekukan seluruh isi didalamnya. Tapi udara di dalam ruangan tetap stabil karena dua buah mesin penghangat ruangan bekerja dengan baik. 
“Well. Apakah masih ada permintaan yang lain, sayang?” Suster kepala basa-basi sebelum pergi. “Pada hari istimewa ini bunda akan berusaha melayani apapun yang kamu inginkan.” Ujarnya agar orang yang diajak bicara punya semangat dan bahagia pada hari natal ini. 
Martini justru muak mendengarnya. 
Busyet! What do you talking about?! Itu hanya akan membuat kita repot suster! Jangan kasi kesempatan apa pun pada sampah busuk ini. Sebentar lagi juga dia akan mati! Suster gendut itu kembali memaki-maki penuh kebencian di dalam hati.
“Terimakasih.“ Akhirnya mulut wanita malang itu bisa terbuka.
“Apa yang kamu inginkan anakku?! Tapi jangan minta bunda untuk mengajakmu jalan-jalan ke taman. Di luar sedang ada badai salju. Cuaca benar-benar buruk tahun ini.”
“Iya. Badai salju itu bisa meremukkan tulang-belulangmu ke tembok!” Umpat suster gendut tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki-makinya.
“Aku sema sekali tidak menginginkan hadiah itu.” Ujar Martini tanpa ekspresi. 
“Sebaiknya untukku saja! Thanks!” Sangat cepat tangan suster gendut menyambar kado yang sejak tadi membuatnya ngiler. “Cincin kawin ini juga tidak cocok dengan  jari manismu. Semoga Tuhan memberkatimu.” Ia langsung menyimpannya ke dalam saku jubah panjangnya, penuh kegirangan seorang pencuri yang telah  mendapatkan  apa yang diinginkannya.
Suster kepala menatap dengan perasaan bingung bercampur malu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh kejadian itu terjadi sangat cepat.
“Aku hanya menginginkan segelas anggur merah dan sebatang rokok pada natal ini, kalau ada.”  Pinta Martini sekenanya.
“Ok, deal! Aku akan segera mengambilkannya untukmu.” Suster gendut itu berlari secepat tikus got, tanpa menghiraukan teriakan suster kepala yang mencoba menahannya.
“Ma’af anakku. Yang kamu minta itu benda larangan Tuhan. Sebaiknya tukar permintaanmu dengan yang lain,“ Suster kepala mencoba membujuk.
“Here there are!” Suster gendut tiba-tiba sudah muncul  lagi memberikan pada Martini seperti apa yang dimintanya. “Senang berbisnis denganmu kawan. Ok, selamat menikmati. Semoga itu bisa memuaskanmu. Selamat natal!”  
Suster tua itu terperangah. “Dari mana benda haram itu kau dapatkan?!---“ Nadanya tertahan bercampur heran dan wajahnya memerah penuh amarah.
“Tentu saja ia mencurinya dari dalam lemari setan dengan sepengetahuan Tuhan suster.” Ujar Martini tanpa ekspresi sambil menyalakan rokoknya.
Seketika suster tua itu pergi meninggalkan mereka berdua dengan kemarahan yang luar biasa. “How dare you! Semoga Tuhan mengampuni kalian!” Katanya sambil pergi, tanpa menoleh-noleh lagi. 
“Kamu-pun boleh pergi.  Aku ingin sendiri.” Pinta Martini dengan nada  ketus.
“Sure. Aku baru saja ingin mengatakannya.” Suster gendut,  kesal. “Selamat natal dan selamat menikmati hadiah dari neraka!” Ia kabur setelah mencuri kotak satunya lagi.
“Thanks. Suster kelihatan sangat cantik hari ini.“ Puji Martini setengah mengejek.
“O’yeach, Thanks a lot!--” Suster tersenyum kegirangan. Pujian itu melambungkannya  ke langit. Ia mengembalikan kotak coklat yang baru  dicurinya. “Ma’af, terbawa,” katanya, tersenyum malu-malu