Aroma keras anggur merah dalam gelas tipis bertangkai panjang dalam genggaman dan asap rokok, menerbangkanya ke masa lalu Martini. Dimana dulu dirinya hanyalah seorang gadis kampung yang terlempar ke sebuah peradaban asing kota besar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Menjadi penghuni lokalisasi prostitusi karena merasa dirinya merasa kotor dan sudah tidak lagi memiliki harga diri setelah mendapat haid yang pertama. Lalu tiga orang pacarnya menggaulinya hingga hamil sewaktu masih SD. Kemudian semua tetangga jijik melihatnya bagai sampah busuk dan wabah penyakit menular yang pantas untuk dijauhi.
Keluarganya malu menanggung aib, lalu mengusirnya. Setiap malam dirinya harus melayani lelaki yang berbeda-beda hingga seorang bule menebus dan membawanya pergi ke luar negri.
Berbagai negara pernah dihuni dan disinggahi. Puluhan laki-laki asing datang dan pergi silih berganti setelah puas menikmati tiap inchi tubuhnya. Seluruh kemaksiatan dan kenikmatan yang pernah ditawarkan dunia sudah puas ia nikmati. Kemewahan yang paling memabukkan juga sudah biasa baginya. Sampai datang Marco De La Vega menghancur-leburkan seluruh mimpi indahnya. Seluruh kekayaan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun habis ludes di kuras laki-laki pelaut bajingan itu. Janjinya yang akan menikahi dan mengantarnya pulang ke kampung halaman tak pernah terjadi. Terakhir, dirinya malah dilemparkan keliang neraka, menunggu ajal setelah virus ganas HIV yang menderanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi.
Anggur berkadar alkohol tinggi mengaliri sekujur anggota tubuh Martini bagai sengatan listrik ribuan watt, menghanguskan syaraf dan organ tubuh yang dilewati. Minuman paling berharga itu dulu untuk mencuci kakinya. Dan rokok termahal selalu terselit di mulut mungilnya. Pesta dan judi sudah menjadi agenda harian.
Pelahan muncul tabir pelangi naik kematanya yang membuatnya oleng. Sudah sangat lama minuman seperti itu tidak dinikmatinya. Martini membetulkan posisi bersandarnya pada bantal setelah kesadarannya kembali hinggap. Tubuhnya mulai terasa aneh. Sepertinya ingin melayang ke udara setelah sengatan listrik itu sedikit mereda.
Sekali lagi, kerongkongan dan paru-parunya dipenuhi oleh asap rokok. Ada kenyamanan luar biasa yang dinikmati untuk yang terakhir kalinya selain rasa pedih dan panas yang menjalar seperti api magma mendidih dalam dadanya. Bayangan orang tuanya dikampung muncul silih berganti dengan bayangan semua laki-laki yang pernah tidur dengannya dan seluruh dosa yang ditimbunnya. Lalu muncul monster iblis sangat mengerikan berwajah Marco yang bertanduk dan bertaring. Dengan ganas ia mencabik-cabik sekujur tubuhnya yang rapuh hingga jadi serpihan-serpihan kecil.
Wanita reput itu sejenak meraung menahan gejolak emosinya. Kemudian menggeleng dengan mimik mengerikan menahan rasa sakit yang sekarat. Tangan dan tubuhnya kian bergeter hebat.
Takut anggur dalam gelas tumpah, ia meminumnya dengan sekali teguk. Siksaan rasa pedih dari organ tubuhnya yang sudah hangus terbakar, membuat pandangan matanya berubah gelap. Lalu muncul jutaan bintang kecil yang memusingkan kepalanya sebelum segalanya berubah serupa monster mengerikan.
Mendadak ia menemukan ide bagus. Gelas anggur tipis berkaki panjang yang sudah kosong itu dibungkus dengan ujung kain sprey. Sebuah ayunan keras ke dinding tembok membuat gelas itu hancur lebur. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia kumpulkan serpihan kaca kecil tajam mengkilat dalam genggaman tangannya yang gemetaran. Detik berikutnya benda setajam silet itu sudah masuk merobek seluruh organ tubuh yang dilewatinya.
Martini sekuat tenaga mencoba menahan gelegak magma yang mulai bergolak tak terkontrol. Rasa pedih yang luar biasa itu naik muntab ke atas mata menghanguskan seluruh syaraf otaknya. Dadanya bergemuruh hebat menahan gelegak api magma yang siap menyembur keluar. Tabir merah yang menutup matanya berubah gelap. Gemuruh magma dalam dadanya tiba-tiba muntab keluar bersama seluruh isinya. Wanita malang itu meraung keras setelah memuntahkan cairan amis berwarna hitam pekat. Melumuri dinding tembok dan kain sprey dengan bau memualkan. Detik berikutnya, ia terdiam. Seperti saat dirinya tidur nyenyak. Yah, ia sedang tidur nyenyak. Untuk selama-lamanya.
Suster kepala dan suster gendut menemukan Marini sudah tidak bernyawa di atas zalnya. Keras seperti mummy, lima jam setelah kematiannya. Mereka berdua melakukan misa requiem di depan jenazah yang sudah kaku.
in paradisum deducant te angeli.