#tipsnulis.
Bag : 2.
(nulis itu mudah.)
Kalau kita menyerah pasrah dan mengaku tidak bisa menulis, sebenarnya ini sebuah fakta yang sangat aneh, agak lain, tulul dan lucu sekali. Kenapa? Bukankah sejak dari SD kita sudah diajarin oleh ibu kita kartini untuk mengenal, memahami dan dilatih merangkai 26 huruf alfabet sialan menjadi sebuah kalimat sederhana. Lalu kalimat itu dijadikan paragraf yang memiliki makna dan arti penjelasan sederhana. Kemudian sekarang kalian mengaku tidak bisa menulis setelah capek sekolah bertaon-taon. Whats the hell. Ngapain aja kalian sekolah selama ini? ----
Jika dipaksain, mereka akan melakukan segala cara dan sedaya upaya untuk nge'jiplak atau coppy paste dari karya orang, lalu mengakui itu sebagai karyanya. Mungkin juga mereka akan minta tolong AI. Apalagi sekarang banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk apapun secara sempurna tanpa ribet dan harus mikir njelimet. Percayalah itu sama sekali tidak intelek bahkan cenderung curang. Memanipulasi dan menipu diri sendiri. Sungguh itu cara yang tidak bermoral.
Tragisnya lagi, ibu dan pak guru tahu itu sangat tidak etis [curang], tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah menjadi hal legal dan normal secara massal. Mereka sadar tidak mampu memberikan contoh yang baik dengan alasan, sama. Yaitu : “Sama sama tidak bisanya!" Padahal setumpuk teori sudah di kuasai. Piye jal iki! ---
ltu bukti bahwa seorang penulis adalah manusia terhebat di permukaan bumi karena ke jeniusannya. Jumlah mereka sangat terbatas.
Bahkan, bapak ibu guru yang setiap hari mengajar kita di depan kelas dan sudah terbiasa pidato dan nulis di papan tulis, menulis sebuah karya tulis sederhana saja mereka ngaku pusing tujuh hari tujuh malam keliling keliling belum menemukan cara bagaimana untuk memulainya. Apa lagi murid muridnyah?! ----
Bagaimana orang lain bisa menulis cerita yang rumit, detail dan sangat panjang hingga puluhan bab sampai setebal bantal. Yang bacanya saja capek, apa lagi si penulisnya! Pertanyaannya adalah : Kok bisa-bisanya mereka nulis sampai segitunya. Lha terus kita kapan bisa nulisnyah?--
Tidak sesederhana itu juga. Seorang penulis mutlak membutuhkan kecerdasan, membiasakan diri dengan dunia literasi. [baca tulis] secara baik dan benar. Baik tentang semua peristiwa yang terjadi seisi jagad alam raya ini bagaimana bisa hidup jutaan tahun dan masih akan tetap hidup entah sampai kapan dengan seluruh drama yang menyertainya. Literasi akan melatih dan juga akan mengajari kita untuk paham bagaimana cara membuat ide-ide menjadi sebuah rencana besar yang baik, kemudian terciptalah sebuah maha karya.
Kata cerpenis om Budi Darma:
“Menulis itu mengajarkan kita untuk bisa membaca atau melihat masalah dengan cara yang lebih baik untuk kemudian menemukan inti persoalan dan juga membuat abtraksinya sekaligus menemukan solusi. Bagaimana tulisan itu dibuat dengan ekonomisasi kata, bagaimana tulisan itu disusun dalam ruang yang ada, dan kemana tulisan itu akan kita arahkan”.
Ok well. Sebenarnya, menulis adalah bagian dari seni merangkai 26 huruf alfabet dari A hingga Z. Sangat sederhana sebenarnya. Ini hanya masalah kemauan keberanian dan kebiasaan [habbit]. Jika kamu tidak mau membiasakan diri untuk menulis memang cukup sulit. Tidak cukup dijelaskan hanya dengan : Bla bla bla bla. Ada kada brak whuuzz! Jadi! Tidak begitu konsepnya ferguzo!----
Menulis itu harus dipraktekkan terus menerus sampai menjadi sebuah kebiasaan (habbit) yang sistemic.
Menulislah apa yang kamu pikirkan dan kamu lihat, juga yang pernah terdengar oleh telingamu. Menulis apapun itu terserah! Yang penting menulis dan menulis! Prosesi ritual inilah yang kadang menjadi amat sangat menyebalkan. Dan itu penyebab utama kenapa gagal dan banyak penulis yang tidak sanggup melewati, kecuali benar-benar kalian mahluk pilihan Tuhan. Dengan berbagai alasan karena disibukkan oleh tugas dan pekerjaan lain yang lebih penting atau memang tidak sabaran menunggu prosesnya hingga sampai ke tahap akhir.
Semua yang ada di dunia ini bisa kita pelajari dan lakukan sepanjang kita masih punya empat hal ini. Yaitu : Tekad dan semangat kuat, punya akal sehat, panca indera normal, ada cukup data Informasi awal dan ide ide brilliant sebelumnya serta kesempatan. Maka hajar! Abaikan bisik bisik dan rayuan para setan dengan kemalasan karena semua itu godaan yang menghancurkan mimpimu.
Ok, mari tarik nafas dalam dalam, pejamkan mata dan rentangkan kedua tangan. Kosongkan pikiran se rileks mungkin. Pikirkan 33 kali lagi : kenapa aku harus milih jalan sulit dan terjal ini, untuk apa. Ambillah keputusan terakhir dengan sadar resiko resiko kedepannya.
Lanjut #3.
Komentar
Posting Komentar