Kalau bisa tulislah kelebihan isi ceritanya apa dan karakter para pemerannya secara detil. Sinopsys itu bukanlah blur seperti yang ada dibalik sampul novel untuk menarik pembaca atau teaser dalam sebuah film. Tulislah sinopsys sekeren mungkin karena yang pertama kali dinilai atau dibaca oleh editor adalah itu.
Nggak salah juga sich jika kamu mencoba untuk menerbitkannya sendiri secara Indie [self publishing]. Itu lebih mudah karena semua bisa dikerjakan sendiri. Sejak dari naskahnya, editing, cover, lay outing dan proses yang lain sampai menjadi sebuah buku novel beneran.
Semua proses nulisnya bisa dikerjakan di word office lalu pindah ke PDF dan canva untuk bikin covernya. Lalu bawa naskahmu ke percetakan digital printing. Pesanan sesuai dengan aplikasi. Bayar. Beres! Tapi jatuhnya agak mahalan karena prosesnya dicetak print digital. Kalau di percetakan offset biasanya mereka akan menentukan batas oplah minimal 1000 atau 500 eksemplar perjudulnya.
Semakin banyak kita cetak semakin murah karena dicetaknya menggunakan sistem offset kayak koran pagi dan majalah. Sedikit atupun banyak, itu sama ribetnya. Coba tanya sendiri dech ke percetakan kalau kamu nggak percaya.
Atau coba kirim ke percetakan yang banyak menawarkan jasanya di medsos. Tapi ingat, sekarang banyak sekali mafia. Karyamu dengan mudah bisa dicuri, makanya hati hati jangan mudah percaya.
# Bagaimana bikin dummy. (Pra cetak)
Dalam komputermu sudah di sediakan semua fiturnya. Misal, nulis di microsoft office word, lay out ke format ukuran buku yang kamu mau. Bisa juga pindahkan naskah yang sudah lengkap sempurna ke coreldraw, ataupun page maker. Bikin cover juga bisa di canva, coreldraw, photoshop atau indesign.
Kalau nggak mau ribet, antarkan aja ke jasa design grafis di percetakan. Tentukan model cover dan ukuran novel atau bukunya. Mau soft atau hard cover. Glossy atau doff. Clear.
Milikilah motivasi yang kuat dan juga idealisme. Karena sebuah keinginan kecil dan sederhana itu perlu sebuah rencana yang jelas dan pasti untuk bisa mewujudkan nya. Makanya jangan takut berjuang demi sebuah niat mulia. Niat besar dan kecil itu sama saja. Sama-sama perlu proses dan perjuangan. Tanggung. Pasanglah keinginan yang besar sekalian. Kalau gagal, kamu patut bangga karena sudah melewati prosesnya.
Jika suatu saat nantinya kamu ingin kembali menulis, kamu sudah pernah memiliki pengalaman itu. Tinggal sesuaikan tema yang ingin ditulis. Ditambah dengan ilmu ilmu baru selama ini, itu akan menambah bobot buku. Sungguh menulis buku itu adalah aktifitas yang sangat menyenangkan dan keren sekaligus jadi bukti legasi bahwa kamu pernah ada dimuka bumi ini dan bisa bermanfaat buat sesama.
Kendala terbesar lain dari penerbit dan penulis buku adalah kesadaran budaya membaca masih tergolong rendah. Salah satunya karena aksesibilitas buku yang masih berpusat di kota-kota besar.
Di beberapa daerah-daerah terpencil mereka kesulitan memperoleh buku-buku yang baik, relevan dan berkualitas, makanya peluang para pembaca serta pelajar menjadi sangat terbatas. Ditambah lagi sekarang eranya serba digital dan Ai menggerus minat orang untuk membeli dan membaca buku fisik.
Di samping itu, kurangnya infrastruktur perpustakaan dan toko buku didaerah terpencil menambah masalah kian parah. Apalagi untuk mengembangkan minat untuk membaca. Hal ini semakin memperlebar ketimpangan pengetahuan dan kesempatan antara masyarakat perkotaan dan pedesaan terkait akses terhadap buku itu sendiri serta informasi. Tapi dunia digital sekarang mampu menembus batas ruang dan waktu. Tinggal kitanya mau pintar atau nggak.
Cara berpikir yang pragmatis membuat banyak orang tidak menyadari pentingnya menulis dan berbagi ilmu. Akibatnya, pengetahuan serta pengalaman berharga tidak terdokumentasi dengan baik dan tidak dapat dinikmati generasi berikutnya.
Menulis sebenarnya suatu kewajiban moral tiap individu sebagai legacy yang berfungsi melestarikan warisan intelektual dan memberikan kontribusi bagi kemajuan bersama.
Sebetulnya masih ada banyak yang ingin menerbitkan buku namun terhalang oleh rasa takut, misalnya takut dicemooh, takut karyanya tidak layak, takut menerima kritikan, bahkan takut karyanya dibajak oleh orang lain. Ketakutan-ketakutan seperti itu sering kali menjadi, lalu alasan menunda ataupun membatalkan niat untuk menerbitkan naskah yang sebenarnya sudah rampung.
Itulah penjelasan mengenai beberapa alasan penting kenapa seseorang malas menerbitkan buku. Karena negara tidak bisa menjamin aman jika terjadi kendala seperti itu.
next :15.