“Kita harus pergi ke sana!” teriak Zaky spontan kegirangan. “Look over there. It's so amazing.” cepat ia memberikan teropongnya dengan penuh semangat.
Julianty tidak sabar lagi untuk membuktikan. Ia tercengang dan nyaris tanpa bisa menarik nafas saat melihat sendiri panorama alam indah juga misterius di pulau mungil yang dikelilingi oleh lautan biru dengan bukit batu megalit purba yang exotis. Seperti lukisan sempurna. Ia benar-benar terobsesi untuk segera bisa pergi ke sana.
Tempat itu bukan saja menyajikan petualangan alam dan pantai yang sangat eksotik tapi kata om Hendra di sana surganya bagi para penyelam untuk menikmati hutan terumbu karang purba yang bentuknya bermacam-macam dan berbagai warna. Pastinya juga banyak ikan-ikan indah dan ribuan jenis biota laut lainnya yang hidup nyaman pada habitat alamiahnya.
“Dengan apa kita bisa pergi ke sana,” tanya Julia pada Aulia, antusias. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera pergi ke sana.
“Kita bisa menyewa perahu mesin dari pelabuhan desa terdekat, Sepempang. Minta diantarkan ke sana kemudian nanti pulangnya dijemput lagi. Tempat itu tidak jauh dari sini.” ujarnya serius.
“Cara yang lain,” Zaky ingin tahu.
“Bisa dengan berenang.” jelas Aulia kesal.
“Boleh saja kalau berani sama hiu putih.” Wan Hafilda menakut-nakuti. “Coba saja kalau berani,”
“No problem. Ayo kita pulang ke penginapan. Kita siapkan semua perlengkapan untuk pergi ke sana.” Julianty cepat menuruni sederet bebatuan raksasa setinggi lima belas meter dengan cara meloncat dari batu satu ke batu lainnya.
“Semangat kita bakalan naik berlipat-lipat kali ganda setelah dari sana. Kita bisa bebas mandi air laut dan mendaki bukit batu seharian tanpa gangguan apapun karena di sana tidak ada perkampungan. Kita harus bawa bekal air minum dan makanan dari sini." Wan Hafilda serius.
"Wowww, it' s so cool!” Zaky tidak sabar.
Mereka tidak sabar untuk segera pergi ke sana. Sebetulnya masih banyak objek wisata yang bisa dikunjungi, semuanya masih alami dan keren keren.
Ketika Julia dan Zaky menunjukkan hasil hunting foto-foto dan rekaman videonya setelah semua file data dipindahkan ke laptop. Mereka menjerit histeris, berebut ingin duluan memindahkan ke dalam i-pad dan HP masing-masing untuk diupload ke medsosnya.
“No! No!“ cepat Julianty berteriak keras menahan. “nanti kalian bisa mengambil sendiri sepuas-puasnya di sana. Itu hasil karyaku. Tidak boleh diambil.”
“lni keren banget. Anjiiiiir!” Misya tetap ngotot untuk megambilnya.
"Fotonya keren abis!” Novianti merengek-rengek minta ijin.
“Nggak bisa! Itu namanya pembajakan hak cipta orang lain.” Julianty tetap menahan. ”Itu sebuah karya seni, kreatifitas, intelektual seseorang yang dijamin dan dilindungi undang undang hak ciptanya. Jadi jangan biasakan mencuri karya orang. Belajarlah menghargai hak dan karya orang lain mulai sekarang. Okay!---" Ia menepuk-nepuk pundak semua kawannya.
“Pelit banget sich!” Misha gondok.
"Kenapa kalian curang ninggalin kami!” protes mereka, uring uring-uringan.
“Sorry don't get me wrong. Tadi itu kami hanya survey lokasi. Kalian juga masih ngorok pun!”
"Can l have a bit, ---"
"Ra' iso!"
“Kalian penghianat. Nggak adil!” Tasya teriak.
“Oke you bet. Kalian boleh memilikinya, asalkan membayar royalty ke aku lebih dulu.” Julianty tertawa penuh kemenangan.
“Sama juga bo'ong luh!” Misya bersungut sungut kesal. “Ok, no problem. Kita bisa take foto sendiri.”
Yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala kesal dan juga kagum dengan keindahan semua hasil foto Julia dan Zaky yang memang sangat luar biasa keren.
"Let's bounce! "
"Klean curaaaang!"
Julianty tertawa bangga sambil melepas jilbab karena kepanasan.
“Sorry. Aku mau mandi. Kalian sarapan dulu dan siap siap untuk berangkat. Di warung banyak kue tradisional enak enak.”
“Dasar pelit!” umpat Misya, melempar lagi kabel datanya ke sudutan dengan geram.
“Ayo, siapkan semua perlengkapan turing! Kita akan pergi berpetualang menjelajah ke tempat paling indah di dunia!” teriak Muhammad Zaky “Kita akan menjelajahi pulau tak bertuan! Kita menjadi bajak laut pemburu harta karun!”
“Horee!!” Semua bersorak kegirangan.
“Ok, kita akan bikin film dokumenter!” seru Novita. "Tunggu aku sepuluh menit untuk bikin script dan story boardnya. It's all good,"
“Oke, Siph!” mereka tos rame-rame.
Julianty memerintahkan Tasya dan Misya untuk membeli makanan ringan, roti dan beberapa botol air mineral sebagai bekal kesana. Sedang Dina bersama dua sahabatnya kebagian tugas untuk mencari ojeg. Julianty dan Zaky sendiri sibuk menyiapkan pakaian ganti, kaca mata air, sunblock, peralatan snorkeling, tripod camera drone dan peralatan untuk memotret di dalam air serta memori card cadangan. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk segera pergi.
Baru kali ini Julianty and her gangs merasakan sendiri serunya petualangan. Ia ingin Abie Umie dan semua guru serta kawan-kawan sekolah mengakui bakatnya sebagai calon Jurnalis dan gadis petualang tangguh, sekaligus fotografer profesional masa depan. Hanya itu. Tidak lebih.
nb :
Sorry jika situasi kondisi dan lokasinya sekarang sudah berubah bentuk lebih indah karena ini saya tulis 10 tahun lalu sebelum Masehi. Wassalam! 🙏
The end.