PENANGGALAN

Jumat, 17 April 2026

#tipsnulisnovel.

      
     Ratusan kali tembakan kamera DSLR dengan lampu blizd sukses menangkap setiap momen unik seperti gerombolan kelelawar lipan dan kalajengking didinding batu yang cukup menyeramkan. Ketika dari jarak seratusan meter tiba-tiba matanya mengenali beberapa primata mungil berbulu hitam lebat dengan warna putih di dada dan sekeliling mata legamnya.  Seolah primata itu mereka memakai kaca mata di atas pohon sedang menikmati buah segar. 
     Cameranya dengan telelens  beraksi mengikuti ke mana arah primata itu pergi. Bukan hanya itu, beberapa kelelawar raksasa juga  burung elang kepala putih terlihat terbang rendah melintas di atas kepala. Sebagai fotografer, semua moment indah dan langka itu tidak terlepas dari lensa kameranya. 
     Rasa penasaran Julianty tidak bisa dihentikan dengan seluruh fenomena langka seperti itu, ia terus menyusur keluar masuk sisi celah–celah batu batu raksasa yang bentuknya unik unik diantara pepohonan beringin purba dengan akar panjangnya melingkar lingkar hingga ke arah bibir pantai. Sejauh ini aman. 
     Batu batu besar sebesar rumah itu terkikis oleh air hujan dan hempasan keras ombak besar dari air laut pasang hingga membentuk rongga rongga yang bisa dimasuki. Katanya dulu tempat itu digunakan  oleh para bajak laut untuk bersembunyi sekaligus tempat  pengintaian. Tapi Julianty tidak percaya karena bajak laut itu kaya raya. Emas curian berkilo kilo itu kalau  dijual bisa untuk menginap di hotel berbintang dan membeli motor boat. 
     Jarum jam terus berjalan. Julianty lupa dengan rasa takutnya karena terlalu menikmati seluruh ke indahan panorama eksotis sekaligus magis dalam gua alam bebatuan pinggiran pantai. 
     Zaky dan dua gadis kawan Natunanya yang panik terpaksa harus minta tolong ke warga setempat karena kehilangan kontak dengan Julianty lebih dari dua jam. Ketika ditemukan, Julianty hanya nyengir tanpa merasa bersalah. Padahal tempat itu sangat angker dan juga menyeramkan. Jarang sekali ada oran asing yang berani keluar masuk sendirian. 
     Dari cerita warga setempat, tempat itu banyak dihuni oleh manusia ghoib yang suka menculik dan bawa kabur orang. Tapi Julianty hanya tersenyum. Buktinya tidak terjadi apa apa. Ia tidak percaya sama sekali dengan mitos. Itu dibuat oleh nenek moyang untuk menakut nakuti anak cucunya biar tidak berani kluyuran kemana mana. 
     Julianty meneguk habis air minum mineral yang disodorkan Wan lda karena ia benar benar kehausan dan perutnya lapar. 
     “Thanks sist.” ujarnya, nyengir tanpa dosa. "It's amazing. Luar biasa!"
     “Apanya yang luar biasa! Kami ini panik hilang kontak lebih dua jam. Untung kamu nggak dimakan ular atau hantu!” Wan lda geram. 
     "Iya, kalau disini harus hati hati. Masih banyak hantu jahatnya yang suka culik manusia." ujar warga. 
"Di kotaku lebih banyak lagi!" Ia tertawa menarik nafas lega  sambil menggeleng geleng bangga. "Suer keren banget. Aku dapet foto bagus-bagus,--- yheees!"
     Dua buah motor terdengar naik merambat bukit. Mereka remaja datang bersama pacar masing-masing. Tempat itu memang cocok untuk berkencan. Duduk berduaan di atas batu-batu besar atau bersembunyi dalam celah-celahnya sambil bercanda ria memadu kasih, menikmati panorama alam dan ombak laut biru di bawahnya sambil dibuai semilir angin. Ufhh, keren. 
     Zaky tersenyum penuh arti ke arah Julia sambil mengangkat alis. Julianty mengepalkan tinju sambil melotot garang, mengemasi semua alat alat fotografi nya lalu segera kabur karena sudah sangat lelah dan lapar. Padahal pulau Senoa diseberang terlihat sangat jelas dari bukit batu besar dari tempatnya berdiri. Panorama alam laut birunya sangat menggoda untuk dinikmati berlama-lama di sana.
     Perjalanan dilanjutkan lagi ke Alief Stone Park setelah di pinggir jalan mereka mampir warung kecil yang menjual aneka kue tradisional dengan rasa dan bentuk yang unik. Kebanyakan berbahan baku santan kelapa, ubi, pisang, tepung sagu dan daging ikan segar yang melimpah di sana. Betul-betul itu makanan sehat sarat gizi nutrisi. Semua makanan tradisional  unik unik mereka cobai hingga kenyangan.
    Laki-laki bermata tajam dan berahang keras yang sedang merawat tanaman bunga dengan ramah menyambut anak remaja berempat. Mereka langsung mengenalkan diri. Pensiunan dosen dari ibu kota itu menyambutnya dengan penuh semangat. Laki-laki itu bercerita tentang semua idealisme dan upaya keras untuk mengajari masyarakat sekitarnya tentang arti penting menghargai keindahan alam dan lingkungan. 
     “Om hanya ingin menyelamatkan tempat ini dari kerusakan sistemik dan kerakusan nafsu manusia dengan alasan kebutuhan.” nadanya sangat prihatin, mirip seperti sebuah keluhan. “Padahal tempat disini sangat luar biasa indah. Semua orang harus melihat dan menikmatinya sebelum meninggal dunia."
     “Betul sekali om. Saya setuju!” Julianty mengajak toast. Zaky ikut-ikutan toast, Wan lda dan Siti Auliatur Rahimah memandangi. 
     “Heran, batu segede ruko-ruko itu bisa mereka hancurkan hanya dengan palu godam untuk bahan bangunan,”  Zaky pura-pura bodoh.
     “Seperti yang kalian lihat sendiri.” Jawab om itu diplomatis. Ia lalu mengajak jalan jalan melewati celah celah lorong diantara batu-batu raksasa menuju rumah panggung merangkap mini musium tepi pantai yang bersih dan rapi sambil ngobrol panjang lebar. 
     Beberapa batu besar yang berpermukaan datar dihubungkan dengan kayu papan ke batu batu datar lainnya untuk duduk istirahat santai menikmati sunset dan pemandangan pantai berair jernih dibawahnya dengan pasir halus putih menghampar luas diantara bebatuan beraneka seperti muncul dari dalam bumi.
     “Wow dari sini aja terlihat keren banget!” Zaky merekam seluruh panorama indah dari atas batu paling tinggi dengan kamera videonya. 
      “Sayang banget kalau objek ini sampai di rusak,” gumam Julianty kagum. "Masya Allah. Seolah pulau ini dikelilingi dengan batu batu hidup seperti benteng pertahanan alami." ia mengagumi ciptaan Allah. 
      "Kamu benar. Kenapa banyak ditemukan bangkai kapal dagang dengan muatan benda berharga seperti emas perak dan keramik, kapal itu hancur nabrak batu granit besar saat dilanda badai. Barang berharga itu banyak disimpan di museum daerah." ujar penjaga Alif stone park. 
      "It's great." Zaky kagum. "Kita harus kesana!"
"Kenapa sekarang batu batu penyelamat itu ingin  dihancurkan?---" Julianty keheranan. 
      “Kita tidak menyalahkan mereka karena dari situ mereka mencari makan.” ada nada getir dan galau di sana.
      "Tapi tidak dengan cara merusak alam begitu dong om!" Julianty protes keras. "Masih banyak alternatif lain karena jarang sekali ada daerah yang memiliki keindahan masih asli seperti ini. Maksudnya, alam ini bisa diwariskan generasi berikutnya."
     ”Sesungguhnya alam pulau Natuna ini sangatlah subur dan APBD juga besar. Seharusnya masyarakat bukan dengan cara merusak alam dan lingkungan yang mereka tinggali." nada orang tua itu terdengar seperti sebuah keluhan. "Lihat darat dan lautnya yang menyimpan kekayaan alam luar biasa. Ada cengkeh dan buah tumbuh subur. Ikannya melimpah ruah.”
     "Tergantung kebijakan kepala daerahnya apakah mereka peduli atau tidak dengan potensi alam yang ada." Julianty sok kritis. 
     Beberapa anak anak kampung sekitar terlihat sangat akrab dengan om penjaga Alief stone seluas lima hektar yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri. Julianty terus saja membidikkan mata kameranya pada objek indah dan pada wajah-wajah polos mereka. 
     “Jangan takut om. Insya Allah kami akan bikin orang seluruh dunia tahu tempat ini dengan membuat liputan khusus tentang semua objek pariwisata pulau indah ini. Dan hasilnya akan Julia unggah ke blog, fb, dan lG galery fotografi. Teman sosmed Julia diseluruh dunia pasti suka dengan tempat eksotis seperti ini. Tolong dijaga untuk tetap alami jangan ada sentuhan modern.” ujarnya dengan penuh semangat. 
      “Nah, itu yang sedang om tunggu sejak dulu!” Om Hendra langsung bangkit berdiri tegak kegirangan, mengajak toast untuk kedua kalinya dengan penuh rasa bangga luar biasa. "Ayo explore semua objek."
      Mereka disuguhi kelapa muda, nanas dan pisang rebus. Anak anak lain terlihat membawa beberapa kepiting dan ikan segar untuk dimasak. 
     “Om ini sudah tua, tidak sempat untuk melakukan hal-hal ajaib seperti itu sendirian. Itu tugas kalian. Adik-adik ini datang dari mana yah? Kok bahasanya agak sedikit beda,”
     “Yah om ini, kan tadi sudah dikasi tau!” Zaky keki membidik laki laki berwajah tegar dan bersih dengan sejuta obsesinya itu. “Kami ini berenam siswa SMAN 15 Batam sedang liburan semester.” Ia menunjukkan kartu OSIS dari dalam dompetnya. 
      “Maaf om. Kami ini ada tugas dari sekolah untuk membuat liputan khusus tentang liburan semester." jelas Julianty. “Kami sangat beruntung bisa ke sini. Nah yang dua ekor primata cantik ini sahabat kami, asli anak sini.” Ia memeluk Aulia dan Wan lda yang marah-marah disebut perimata.
     “Tolong nanti ajak semuanya kesini. Om sangat bangga pada kalian. Tugas kalianlah untuk merawat dan melestarikan tempat ini karena kalian anak-anak hebat yang bakal mewarisi keindahan alam ini semua. Om yakin kalian punya kepedulian dan idealisme yang sama, yaitu ingin menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman untuk kita tinggali.” Sekali lagi om mengajak toast dengan penuh suka cita. 
     “Siap bos!” teriak mereka penuh semangat. Zaky teringat bagaimana tadi dalam kapal Julianty berani protes dan bertengkar hebat karena ada awak kapal membuang sampah ke laut tanpa merasa bersalah.
      Julianty benar benar ke asikan membidik objek paling unik dan artistik dari batu batu raksasa yang kesannya sangat magis sekaligus misterius dengan memanfaatkan cahaya suram sinar matahari pagi.  Seolah ada imajinasi magis yang agak aneh. Ia bisa merasakan itu semua dari instingnya. 
      Kemudian ia mengeluarkan HP untuk merekam semua nama nama lokasi setelah mewawancarai om Hendrawan sebagai nara sumber dan kawan-kawan lain untuk melengkapi narasi liputan khususnya. Sedangkan Zakky merekam dengan handycam. 
      Untuk sejenak mereka menikmati kelapa muda dan pisang rebus yang masih hangat. 
      Zaky iseng  mengambil teropong jauh di atas meja untuk melihat  objek di seberang, pulau Senoa. Pulau unik berbentuk wanita hamil terbaring dengan pantainya berpasir halus indah dikelilingi ribuan pohon kelapa melambai dengan panorama ombak putih bagaikan kapas pecah berderai setelah meng hempas batu. Burung-burung Elang kepala putih dan Camar laut saling kejar-kejaran memburu ikan ikan yang muncul ke permukaan laut, menampilkan pemandangan fantastis.
      Pulau Senoa dari jauh terlihat begitu fantastis dengan bukit batu megalitnya setingi lebih dua ratus meter dari permukaan laut yang sangat menantang nyali untuk didaki dengan lewel kemiringan extrim dan banyak celahan kecil sebagai pijakan kaki, sangat ideal untuk latihan panjat tebing. Tempat itu benar benar sangat menggoda untuk dikunjungi. Disana juga terdapat tugu titik nol tanda tapal batas dengan negara lain yang dibuat oleh tim Jelajah negri.