PENANGGALAN

Jumat, 17 April 2026

#tipsnulisnovel.


     Julianty muncul dengan nafas terengah-engah kelelahan setelah naik turun dek kelas ekonomi untuk mencari kamar sesuai dengan nomor tiket tapi sudah tidak ada tempat kosong, semua penuh sesak hingga kelorong lorongnya. Semuanya sudah ditempati orang. Ketika ia protes keras ke petugas menuntut apa yang menjadi haknya dengan menunjukkan segepok ytiket, mereka tidak peduli sama sekali. Malahan mereka seperti menyalahkan. 
     Sejenak mereka terlibat pertengkaran dengan kawan sendiri yang kecewa berat. 
     Mereka menyalahkan Julianty kerena dianggap dia yang harus bertanggung jawab, terutama Misya dan Tasya yang sok bergaya anak sultan, alergi jika bercampur dengan orang orang kampung. 
      “Sorry ya. Ini benar-benar di luar perkiraan kita semua.” Julianty melap keringat dengan ujung jilbab. Wajahnya terlihat sangat pucat penuh penyesalan dan kelelahan. “Demi Tuhan aku nggak tau kalau ternyata situasinya akan seperti ini hanya kita terlambat masuk. I'm so sorry about this.” Ia merasa sangat bersalah dan benar-benar sudah kehabisan akal. 
       ”Kalau gitu kita batalkan rencana bodoh ini! Kita turun!” Misya ngotot untuk turun lagi. ”Ini gila dan bisa membunuh kita semua! Ini benar-benar crowded!”
      ”Right!-- Ini udah nggak manusiawi lagi.” Tasya setuju jika expedisi dibatalkan. “Kita alihkan ke objek  lainnya yang lebih dekat. Ada Lagoi Bintan, Tanjung Balai Karimun, Daek Lingga.”
     "Resikonya tickets hangus. Kita juga nggak bisa turun dengan situasi crowded seperti ini." Zaky ngotot.
     "No problem. Dari pada kita gila. Ini sudah sangat parah. Kita baring tidur dilantai jorok begini!" Misya tetap tidak peduli dengan expresi kesal. "Kita turun!"
     "Turun juga beresiko. Barang barang berharga kita bisa ilang dibegal preman," Novita gusar dengan situasinya karena tadi dibawain porter pelabuhan. 
     "That's right. We're no choices." ujar Rhea pasrah. 
Julianty menatap gusar Zaky. Semua terdiam menahan perasaan gundah dan galau berat dengan keresahan memuncak penuh ke tidak puasan. 
    “Masalahnya kita udah disini.” Zaky mencoba menjelaskan situasinya. “Semua guru, kawan kawan dan ortu udah tau kalau kita akan ke Natuna. Ternyata hanya ke Tanjung Pinang, itu sama sekali nggak lucu. Kita malu! "
      “Kita bisa ubah rute, kita explore ke Lagoi Bintan  atau ke pulau yang lain.” Misya tetap ngotot. “Di sana banyak objek wisata yang lebih menarik dan bertaraf Internasional.”
      “Kawasan itu eksklusif untuk wisatawan asing. Tarifnya dollar dan harus booking sebulan sebelum nya sist. Kita juga tidak bisa keluar masuk ke sana sembarangan walaupun kita warga lokal. Pulau itu sudah dimiliki asing yang dijadikan obyek wisata."
     "Itu jika kita mau ke pulau khusus atau resortnya."
“Jadi kita ini mau kemana,---" Novita masih bingung.
     Semua diam, berfikir keras.
     Kapal besar mulai lego jangkar setelah beberapa kali membunyikan horn tanda peringatan kepada para pengantar dan pedagang asongan untuk segera turun karena kapal akan segera berangkat. Lagi lagi bunyi keras horn terdengar keras hingga radius lima belas kilo meter. ABK lepas jangkar dan tali tambat. Suara deru mesin kapal raksasa itu bagai monster, pelan pelan mulai menderu kencang mengerikan.
      Mereka seketika berhenti bertengkar menyadari bahwa kapal sudah mulai bergerak. Baling balingnya menyibakkan air laut hingga seperti pusaran ombak besar pada buritan. Pelahan-lahan kapal dengan tiga ribu penumpang mulai meninggalkan pelabuhan laut Kijang Tanjung Pinang menuju pulau berikutnya. Semua panik dan putus asa serta pasrah.
      ”Sejak awal lagi kita semua sudah sepakat ingin berpetualang bersama walau bagaimanapun kondisi dan situasinya,” Julianty mencoba menjelaskan dengan suara keras. 
     ”Kita sekarang sudah masuk ke zone medan perang. No way out. Nggak mungkin untuk mundur atau kabur. Kecuali kita nyebur.” Diana seperti mengeluh. 
      Semua diam saling pandang, hening pasrah. Zaky menahan nafas berat kehabisan akal. Yang lain penuh cemas menggelengkan kepala putus asa karena kapal sudah bergerak menuju ke tengah laut. Akhirnya Zaky nekad merengkuh bahu semua kawan dari belakang untuk meredam emosi dan berdamai dengan keadaan. 
    ”Forget it, please," pintanya pelan tapi tegas. “Kita yakin akan menemukan solusi yang terbaik. Sekarang kita telat, kapal sudah jalan, percuma aja kita ribut bertengkar.” Zaky mengangkat dua bahu, membuka dua telapak tangannya didepan kawan-kawannya. ”Ingat, niat dan tujuan awal kita adalah ingin berpetualang. C'mon, tunjukkan nyali bahwa kita bisa dan  berani. Kita harus kompak. Kumohon. Kalau masih mau ribut dan berantam nanti aja pulangnya, okeh!--"
     “Spakat! Kita akan hadapi tantangan sama sama.” Julianty langsung menyambut tangan Zaky, menimpa di atasnya penuh semangat. 
     Novitasari, Diana, Rhea Choi dan Tasya Arsyta dengan malas menyusul setelah mereka lama saling pandang. Misya akhirnya terpaksa ikut menyambut dengan hati berat. 
    Kemudian mereka melakukan toast bersama setelah janji untuk tetap kompak, tidak akan menyalahkan siapapun. Moment itu di abadikan dengan kamera. Mereka akhirnya mau berpelukan penuh haru dan terpaksa. Lalu masalah dianggap sudah selesai.   
    Julianty sebagai korlap dalam expedisi ini harus bertanggung jawab dengan menyewa dua kamar tidur awak kapal untuk beristirahat dan menyimpan barang bawaan selama dalam perjalanan dengan uangnya sendiri. "It's not problem." ujarnya pelan. 
     Semua kawannya muntah-muntah mabuk laut selama dalam perjalanan yang sangat panjang dan menyiksa. Julianty dan Muhammad Zaky tetap harus bertahan karena sebagai ketua tim harus bertanggung jawab penuh ekspedisi kali ini. Bahkan Julia sempat merekam video anak buah kapal yang dengan sengaja membuang sampah ke laut lepas yang jelas-jelas itu bisa menyebabkan pencemaran lingkungan. Para awak kapal yang lain juga sibuk menawarkan jualan. Tidak peduli dengan kenyamanan para penumpang.
     Menjelang kapal sandar di pelabuhan Natuna Selat Lampa, Julianty dan Muhammad Zaky nekad menemui petugas informasi untuk mempertemukan dirinya dengan kapten kapal. 
     Setelah lama terjadi adu argumen dan perdebatan sengit akhirnya petugas informasi terpaksa menyerah kalah mengembalikan ongkos sewa kamar dengan lima kali lipatnya setelah Julianty bersikeras mengancam akan mengunggah video ke Facebook, youtube dan instagramnya. Akan memviralkan hasil rekaman tentang kapal jorok dan semua sampah yang sengaja dibuang ke laut lepas.  
     Setelah kesepakatan itu deal dan dibayar lunas, Julianty baru menghapus hasil rekaman dari kamera. Mereka tidak berani mengancam balik karena Zaky merekam dengan hpnya. 
     Sebelumnya Julianty sudah menggandakan file ke laptop Diana. Jika kesepakatan berubah, masih ada backup filenya. Kini dendam dan kemarahan wakil ketua OSIS SMA15 sudah terbayar lunas. Mohammad Zaky mengagumi keberanian Julia berdebat keras dengan petugas berbadan tegab dan berseragam dinas. 
    Turun dari kapal laut dini hari mereka langsung dibawa menuju ke penginapan untuk beristirahat total agar besok kondisi tubuh mereka fit kembali. Julianty sudah tidak sabar menunggu hingga pagi bertemu dengan kawan fesbuknya yang sudah menunggunya antara percaya dan tidak. Dalam hitungan menit, semuanya sudah terlelap tidur pulas kelelahan karena mabok laut parah. 
    Pagi-pagi sekali setelah salat subuh Julianty dan Zaky diam-diam keluar dari penginapan menuju masjid Agung dengan dua sahabat barunya. Kurang dari lima belas menit perjalanan dengan motor dari penginapan, mereka sampai ke tempat yang dituju. 
    Muhammad Zaky asik merekam dengan handycam. Julianty berdiri di atas step motor membidik seluruh objek dengan kamera DSLR. Mereka tidak berhenti mengagumi ke indahan dan kemegahan bangunan masjid Agung Natuna yang pembangunannya konon menghabiskan dana hingga ratusan milyar dengan mendatangkan ribuan pekerja dari Jawa. 
    Masjid seluas sepuluh lapangan bola dua lantai itu memang sangat megah dan terlihat sangat indah dari arsitektur yang khas ala masjid Nabawi dengan empat menara tinggi menjulang, keren banget dengan  kubah melengkung susun tiga berjumlah 19 dengan pola grafis kubisme warna hijau kuning emas berlapis enamel anti karat. Kesannya modern unik dan mewah. Belum lagi pintu gerbang raksasa yang terbuat dari kayu jati berukir indah menghadap ke segala penjuru arah mata angin dengan hiasan ornament logam perak yang unik dan mewah. Seolah memberi kesan kita sedang berkunjung di masjid Nabawi Madinah. Beberapa batang pohon kurma ditanam mengelilingi seluruh bagian masjid. Beberapa pohonnya sedang  mulai berbuah. 
     Sedangkan mimbar khatibnya dari kayu jati berukir relief ayat suci, sangat besar bagaikan singgasana raja. Tiang utama terdapat motif kaligrafi indah. Di kanan kiri mimbar terdapat jam lonceng kayu mewah setinggi dua meter yang mengesankan keanggunan dan kemegahan rumah Allah. 
    Julia menahan nafas penuh rasa kagum dengan seluruh kemegahan masjid Agung yang di kelilingi taman dan tempat parkir yang sangat luas. Ada Islamic centre, asrama haji, kampus, perpustakaan, foodcourt, toko, perkantoran dan gedung serba guna.
     Zaky memekik kaget ketika melewati sisi kanan masjid menemukan bedug kayu utuh sepanjang lima  meter dengan garis tengah 170 cm yang bisa berdiri bebas di dalamnya. Ia tertawa setengah tidak percaya dengan seluruh ke unikan beduk. Ia yakin bedug itu bedug dengan ukuran terbesar yang pernah dilihat seumur hidupnya. Mereka minta ijin petugas untuk berpose narsis di sana. Perjalanan mereka berikutnya ke bukit Senubing yang penuh dengan cerita legenda batu-batu raksasa unik sekaligus juga mistis. 
     Mereka  kagum dan tidak mengerti dengan seluruh misteri alam raya yang Allah ciptakan. Mungkin batu-batu raksasa itu berfungsi sebagai penyeimbang bumi ini agar tidak goyang atau miring.  Batu baru itu dulunya berasal dari sebutir pasir hidup selama jutaan tahun. Atau dari gundukan jutaan pasir hidup.
     Beberapa satwa liar bersembunyi nyaman di balik celah-celah bebatuan dan pepohonan beringin purba yang akarnya menggantung berjuntai kebawah seperti tentakel gurita membelit batu dan pohon buah yang tumbuh merindang di sana. 
    Julianty nekad menyelinap masuk kedalam celah celah batu batu besar menyerupai gua tanpa bersuara. Di dalam gelap hanya cahaya yang masuk lewat celah lubang kecil atau pantulan sinar matahari dari luar.               Tempat itu ternyata dijadikan rumah bagi ribuan burung walet dan kelelawar atau lebah madu liar. Julianty masuk  nyaris tanpa menarik nafas setelah lama mengamati sekeliling apakah tempat itu cukup aman. Tentu saja setelah dirinya membaca do'a yang dia hapal untuk minta perlindungan dari serangan binatang dan setan jahat penunggu gua. 

next 19.