Ketika mengetahui peta pulau Natuna itu letaknya di ujung paling utara, berbatasan langsung dengan negeri tetangga, seketika nyalinya menciut. Dalam seminggu hanya ada dua kali perjalanan pesawat dan sebulan lewat jalur kapal laut. Kabupaten dan pulau itu sepertinya masih terisolir dari dunia luar.
Tapi alasan itu juga yang membuatnya penasaran. Darah mudanya menyala. Tekadnya untuk menjelajahi pulau itu naik berlipat lipat. Ia ingin menunjukkan kepada guru, ortu juga kawan kawanya bahwa dirinya yang terbaik dan mampu menundukkan daerah perawan yang belum banyak terekspose media.
Dalam waktu singkat Julianty sudah berhasil mengumpulkan beberapa informasi keren dari situs pariwisata dan biro travel dari gugel. Sengaja ia tidak minta informasi dari kawan kawan Natunanya, untuk memberi kejutan.
Kemudian ia menyusun anggaran dana dan hunting lokasi yang akan dikunjunginya. Ketika dananya dirasa tidak mencukupi, ia segera membuat proposal untuk minta dana tambahan ke koran abinya dengan barter hasil tulisan. Ia yakin pasti bakalan disetujui karena pimrednya sudah mengenal dirinya. Tiga bulan lalu reportase sekolah dan cerpennya pernah dimuat.
Ketika semua sudah terencana rapi dan terjadwal, kawannya pasti tidak punya alasan untuk menolak. Abie dan umi juga harus ikut setuju. Bahkan kelompok Misya ingin sekali ikut bergabung dengan kompensasi menanggung biaya akomodasinya selama berada di sana setelah mendapat bocoran jika pulau Natuna itu keindahan alam dan pantainya sangat keren.
Julianty, Dian dan Novitasari berjoget kegirangan karena semua rencana bisa berjalan mulus. Novita berencana akan membawa satu koper aksesories dagangan milik mamanya untuk dijual di sana. Anak culun itu otak bisnisnya selalu berjalan. Sedang Tasya punya kartu ATM yang tidak akan habis hanya untuk liburan seminggu ke sana.
Kelompok yang terdiri dari lima gadis imut dan seorang cowok keren berangkat menuju kota Tanjung Pinang pada sore hari dengan fery terakhir karena paginya harus berangkat awal ke pelabuhan Kijang. Tiket kapal sudah dipesan sehari sebelumnya lewat agen biro travel. Kini sudah mereka siap siaga dengan petualangannya.
###
Naik kapal raksasa bersama ribuan orang untuk pertama kalinya membuat nyali Julianty cs seketika menciut dan panik. Situasi yang agak kacau balau itu benar-benar di luar dugaan mereka semua.
”OMG. Ini bener bener mengerikan!” Misya panik hebat menghadapi kondisi semrawut seperti dalam camp penampungan para pengungungsi. Situasi dan kondisinya benar-benar sangat tidak nyaman.
"Whats the hell. It's so crazy!" Tasya juga shock dengan suasana crowded seperti itu.
Julianty terlihat pucat melihat lautan manusia dengan semua barang bawaannya, berdesak desakan. Zaky justru tertawa kegirangan seolah sedang nonton konser di tengah lapangan.
"Wow, --- anjay!" seru Diana. "Matilah kitah! "
”Demi Tuhan, aku nggak bisa berada di tempat jorok dan bau seperti ini lebih dari satu jam. Gudang dan garasi di rumahku lebih steril. Liat tuch, tempat tidurnya campur aduk dengan tong sampah makanan dan barang dagangan." jerit Misya masih paranoid.
”Selalu seperti ini jika musim libur sekolah tiba.” anak buah kapal hanya menanggapi ringan sambil berlalu. ”Kalau mau yang lebih enak, naik kapal pesiar. Ini moda angkutan para rakyat jembel mbak!"
Misya kawan-kawan seketika terdiam bengong. Mereka tercengang antara kecewa dan kemarahan yang luar biasa. Ternyata semuanya sungguh di luar perkiraan semula.
"Pantesan tiketnya murah." Novita juga kesal.
"Asalkan kapal nggak tenggelam di laut, it's ok!" Zaky tersenyum pahit. "Ini baru namanya petualangan sist. Take enjoy. Tenggelam juga kita rame rame. Rileks!"
"Kondisinya seperti camp pengungsi." gumam Tasya.
"So, we've to get out!--" Misya mengangkat bahu kesal luar biasa.
"Kita masuk salah alamat." lanjut Rhea pelan.
”Kayak nggak tau negeri Konoha aja,” umpat Zaky nyengir sinis. ”---jangan berharap mendapat pelayanan yang baik, aman dan nyaman, nyawa kita jadi taruhan! Asuransi dan fasilitas sama sekali nggak memadai. Mereka sudah terbiasa menganggap para penumpang seperti lembu-lembu yang nggak perlu diurus karena bisa ngurusi urusannya sendiri sendiri.”
next 18.