PENANGGALAN

Jumat, 17 April 2026

#tipsnulisnovel



# Bonus.
Ini cerpen yang ku dedikasikan khusus untuk semua sahabat terbaikku di kabupaten Natuna, Daek Lingga, Batam, Anambas, Riau. Kalimantan Timur, Depok dan Jakarta karena aku pernah sembunyi ke sana saat menjadi buronan sambil nulis beberapa novel. Thanks atas keramahan warganya, kuliner dan keindahan alamnya yang exotis. Love U’re forever.

#Journey to the hidden paradise. 

    Sepulang dari sekolah Julianty Pertiwi gadis muslimah tomboy langsung membongkar tumpukan koran lama yang ada di sudut lemari bufet untuk mencari artikel objek objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. 
     Ibu Retno, guru Bahasa dan pembina ke siswaan OSIS memberi tugas menulis feature tentang liburan awal semester ini. Tiga buah karya siswa terbaik dijanjikan mendapat ganti ongkos biaya liburan ditambah bonus voucher makan sepuasnya di seafood. Alasan itulah yang membuat naluri jurnalisme Julianty tertantang.    
    Setelah satu jam lebih mengobrak-abrik koran tidak menemukan objek yang menarik, ia tertidur pulas kelelahan di atas tumpukan koran. Umie geleng geleng kepala selesai memasak mendapati putrinya mirip pemulung, tertidur di lantai diantara tumpukan koran. 
    ”Adik belum pulang ya,"
    "Nanti sore diantar budenya!"
    "Ada tugas PR dari ibu guru untuk menulis acara liburan.” keluh Julianty setelah duduk lesu di meja makan. ”Lia nggak sendirian sih, ada dua kawan lagi dalam satu kelompok.”
     ”Memang tujuan kalian mau ke mana,---” umie menuangkan sayur asem ke dalam mangkok kaca dan botol air dingin dari kulkas. 
     Julianty menggeleng lemah. ”Belum tau. Nanti baru mau diskusikan sama kawan-kawan. Mungkin Umie punya ide,--“  ia minum setelah mencuci tangan dari wastafel.
     ”Emangnya bongkar-bongkar koran tadi kakak nyari apa,” Umie mengambil air minum dari dispenser di sudut meja makan untuk dirinya sendiri.
     ”Semuanya nggak ada yang menarik. Udah basi dan nggak ada tantangannya sama sekali. Pokoknya we've to get something different.” mata bundarnya berbinar. Lalu mulutnya dipenuhi dengan nasi. Sayur bening asem, tempe bacem, ikan asin goreng dan sambal tomat yang terasa sangat nikmat. 
     Umie akhirnya bisa tersenyum lega memahami idealisme si sulung yang kadang kadang suka keras kepala sama seperti Abi-nya. ”Coba tanya Aby, atau cari saja di internet. Edit fotonya dengan canva. Clear. Nggak perlu pergi ke mana-mana. Nggak capek dan nggak keluar banyak biaya."
     “Fake dong itu namanya! Julia nggak mau begitu!” Ia menggeleng keras. Memenuhi lagi mulut dengan suapan nasi lebih banyak. ”Inu bu-an xara ulia. No- no!” ujung jarinya geleng-geleng.
     Diam diam Umi merasa bangga. "Kan kalian bisa meng eksplornya minta bantuan Ai. Seolah-olah kalian pergi sungguhan. Abi dulu sering nulis dengan cara begitu,” Ia menambahkan nasi ke piring Julia.
    “Trus bukti foto-foto kami gimana,--" Ia coba adu argumen setelah nasi dalam mulutnya habis ditelan.          “Kan harus ada foto aslinya sebagai dokumen.”
    “Serahkan aja ke abie. Gampang itu-nya!”
    Julianty menggeleng gelengkan kepalanya lagi. “No. No. Itu manipulasi. Kami sudah komitmen untuk pergi dan merasakan sendiri sensasinya.” Ia meneguk air putih dalam gelas. “Cuma masalahnya kami belum menemukan objek keren yang pas. Semuanya sudah pernah diekspose berkali-kali dimedia. Kita mau nyari yang berbeda, natural dan lebih exotis.”
     "Jelajahi aja hutan wisata mangrove di Bintang, Daek Lingga, bahkan di Batam sini juga ada. Tinggal kalian sewa perahu dan pemandu."
     "Kalau dekat nggak seru. Apa yang ditulis kalau cuma keliling doang dengan perahu liat burung ular dan kepiting. Itu juga kalau ketemu. Kalau nggak?!---"
    "Kan bisa bikin video dokumenter."
    Julianty tersenyum lebar. "Yuph! It's good idea. Itu bisa jadi alternatif. Tapi Julia ingin sekali petualang ketempat yang jauh lebih menantang mie,"
     “Kakak hebat. Umie bangga padamu. Tadi umie hanya ingin tau reaksimu kayak apa.” Ia menuangkan air minum lagi dalam gelas penuh penuh. “Minumlah lagi biar nanti kamu nggak mengalami dehidrasi. Umie percaya kalian bisa melakukannya dan bisa menjaga diri dengan baik.”
    Julianty tersenyum. “Makasih Mie. Untuk apa jadi pendekar silat kalau jadi penakut,” ia tertawa bangga sambil menghabiskan makan siangnya dan cepat cepat mengemasi meja makan, mencuci piring gelas mangkok yang kotor, lalu menghidupkan komputer. 
     Tidak perlu waktu lama, ia sudah menemukan beberapa objek menarik yang layak untuk dikunjungi lewat situs pariwisata di Kepri, lalu mendownloadnya untuk nanti dipresentasikan di depan kawan kawannya. Tapi objek yang paling menarik adalah disbudpar Natuna karena di samping banyak pantainya yang sangat indah dengan air lautnya yang jernih dan batu granit raksasanya, sepertinya sangat cocok sebagai objek petualangan alam yang menantang. 
     Disana juga terdapat bangunan masjid Agung termegah seluruh provinsi Kepri. Alasan pribadi lain adalah dirinya punya sahabat face book anak anak Natuna yang pernah ber temu di mall. Ia ingin ganti berkunjung kesana yang katanya banyak tempat exotic dan kuliner tradisional unik keren keren cita rasanya. 

next 17.